Abu Ja‘far Muhammad bin Ali an-Najashi adalah salah satu tokoh besar di kalangan Syiah
pada masa ghaibah sughra ( ghaib kecil ).

Mungkin akan muncul pertanyaan: bagaimana mungkin, padahal para wakil khusus imam as
(sufara’) masih ada?
Ya, para wakil khusus memang ada, namun mereka tidak menulis kitab-kitab fikih praktis
atau risalah amaliah bagi masyarakat. Hal ini berkaitan dengan tugas mereka, agar tidak
terjadi percampuran antara surat-surat bertanda tangan resmi dari Imamas dengan kitab-
kitab yang mereka tulis.

Memang Husain bin Ruh ( wakil resmi ) r.a pernah menulis sebuah kitab dan
mengirimkannya ke Qom untuk ditinjau, tetapi secara umum para wakil tidak tampil menulis
kitab-kitab terbuka untuk umat.

Selain itu, mereka tidak berada di garis depan secara terbuka. Mereka hidup dalam
penyembunyian, bahkan sebagian mengalami penjara, dan hubungan mereka dengan Syiah
sangat terbatas dan rahasia.

Dalam kondisi seperti itu, muncul tokoh-tokoh ilmiah yang menonjol, di antaranya adalah
asy-Syalmaghani. Muhammad Bin Ali Syalmaghani.

Ia menjadi figur penting terutama di masa wakil ketiga, bahkan sejak akhir masa wakil
kedua.

Kelak Syalmaghani mati terbunuh oleh rezim Abbasiyah sekitar tahun 323 H. Sedangkan
awal ghaibah kubra dimulai pada tahun 329 H. Artinya, hingga beberapa tahun sebelum itu,
ia masih aktif, dan kitab-kitabnya masih beredar.

Disebutkan bahwa kitabnya yang berjudul “at-Taklif” menjadi rujukan praktis bagi
masyarakat Syiah saat itu. Kitab “at-Taklif” menjadi semacam risalah amaliah yang
digunakan di rumah-rumah Syiah.

Syalmaghani adalah seorang alim besar, bahkan menjadi rujukan masyarakat. Disebutkan
pula bahwa wakil ketiga pernah mengarahkan masyarakat untuk merujuk soal agama
kepadanya.

Namun kemudian, asy-Syalmaghani berubah sikap. Ia berbalik melawan Husain bin Ruh.
Salah satu sebabnya adalah karena ia melihat dirinya lebih dikenal di tengah masyarakat,
dan masyarakat banyak merujuk kepadanya dalam ilmu dan fatwa. Ia merasa lebih pantas
menjadi figur utama. Ia tidak ingin tersaingi.

Dalam sebuah riwayat yang dinukil oleh Syaikh ath-Thusi, disebutkan bahwa Syalmaghani
berkata:

“Kami dahulu saling berebut dalam urusan ini ( soal marja’iyah ) seperti anjing-anjing yang
saling berebut bangkai.”
Kata-kata Syalmaghani ini menyingkap betapa ambisinya sangat besar ingin menjadi marja’
satu-satunya yang dirujuk oleh masarakat syiah melalui risalah amaliahnya.
Kisah ini bukan sekadar cerita sejarah. Ia membuka satu sisi yang sangat sensitif: Bahwa
penyimpangan tidak selalu datang dari orang bodoh—tetapi bisa datang dari orang alim.

Ada beberapa pelajaran penting:

  1. Kekosongan otoritas terbuka

Pada masa ghaibah sughra: Para wakil Imam tidak tampil terbuka, komunikasi terbatas dan
masyarakat membutuhkan rujukan praktis

Dalam kondisi seperti ini, muncul ulama-ulama yang mengisi ruang tersebut. Dan peluang ini
dapat digunakan oleh mereka yang inginkan popularitas tampil sebagai rujukan utama.

  1. Ilmu tidak menjamin keselamatan

Syalmaghani:seorang yang alim, produktif menulis dan menjadi rujukan Masyarakat, namun
semua itu tidak cukup untuk menjaga dirinya dari penyimpangan. Ia tidak merasa puas
bahwa wakil imam sudah memberi rekomendasi pada masarakat syiah untuk merujuk
padanya. Ambisinya membuat dirinya tidak mau berada di bawah bayang-bayang wakil
Imam zaman as.

  1. Bahaya ambisi tersembunyi

Titik baliknya sangat jelas: ketika seseorang mulai melihat dirinya sebagai pusat, Ia tidak lagi
melihat kebenaran sebagai pusat, tetapi ia mulai melihat dirinya sebagai kebenaran. Di
situlah awal kehancuran.

  1. Perebutan otoritas

Ungkapan yang dinukil itu sangat keras, tetapi justru karena itu ia jujur: perebutan otoritas
bisa berubah menjadi pertarungan ego. Dan ketika ego masuk: ilmu kehilangan ruhnya,
agama menjadi alat dan kebenaran pun tertutup

Kisah ini memberi peringatan tajam: yang paling berbahaya bukan kebodohan, tetapi
kesombongan yang dibungkus ilmu. Dan dalam konteks yang lebih dalam: siapa pun yang
menjadikan dirinya pusat, pada akhirnya akan bertabrakan dengan kebenaran itu sendiri.

Imam Zaman as berkata:

طلب المعارف من غير طريقنا أهل البيت مساوق لإنكارنا

“ Menuntut ma’rifat dari selain jalan kami Ahlulbayt as sama dengan dengan mengingkari
kami”.
Artinya, apakah seseorang mengingkari mereka atau mengambil agama dari selain mereka
Ahlbayt as, keduanya sama. Sama-sama ingkar terhadap Imam Zaman as.

Beginilah realitasnya: perebutan kepemimpinan dan otoritas agama bisa terjadi seperti
perebutan bangkai oleh anjing : ungkapan ini menggambarkan kerasnya konflik dan ambisi
dalam perebutan posisi keagamaan.

Atas kasus Syalmaghani ini Imam Zaman as membuat pernyataan terbuka dalam bentuk
laknat kepadanya yang menjual agama atas nama Ahlbayt as namun tidak merujuk pada
otoritas suci Ahlbayt as :

> لأنَّ محمدَ بنَ عليٍّ المعروفَ بالشلمغاني عَجَّلَ اللهُ له النقمةَ ولا أمهلهُ، قدِ ارتدَّ عن الإسلامِ وفارَقَهُ، وكذَبَ على اللهِ عزَّ
وجلَّ، وقالَ بهتانًا وإثمًا عظيمًا، وكذَّبَ العادلونَ باللهِ، وضَلُّوا ضلالًا بعيدًا، وخَسِروا خسرانًا مبينًا.
> وإنَّا بَرِئنا إلى اللهِ تعالى وإلى رسولِهِ صلواتُ اللهِ عليهِ وآلهِ وسلَّم وورثتِهِ عليهم السلامُ منهُ، ولَعَنَّاهُ عليهِ لعنَ اللهِ تترى
في الظاهرِ منَّا والباطنِ، في السرِّ والجهرِ، في كلِّ وقتٍ وعلى كلِّ حال.

Sesungguhnya Muhammad bin Ali yang dikenal sebagai asy-Syalmaghani—semoga Allah
menyegerakan hukuman atasnya dan tidak memberinya penangguhan—telah murtad dari
Islam dan keluar darinya. Ia telah berdusta atas nama Allah Yang Maha Tinggi, berkata
dengan kebohongan dan dosa besar.
Orang-orang yang mengada-adakan atas nama Allah telah berdusta, mereka tersesat
dengan kesesatan yang jauh, dan merugi dengan kerugian yang nyata.
Dan sesungguhnya kami berlepas diri kepada Allah Ta’ala dan kepada Rasul-Nya serta para
pewarisnya dari dirinya.

Kami melaknatnya—laknat Allah yang berturut-turut—baik secara lahir maupun batin,
secara tersembunyi maupun terang-terangan, di setiap waktu dan dalam setiap keadaan.

Ini bukan sekadar kritik.
Ini vonis akidah. Ada penegasan: murtad. Dusta atas nama Tuhan. Laknat total tanpa
pengecualian

Dan yang paling penting: Imam Zaman as tidak hanya menolaknya , Imam as memutus
hubungan sepenuhnya.

Kenapa?
Karena masalahnya bukan kesalahan biasa.
Masalahnya adalah: mengambil posisi agama tanpa hak dan tanpa jalur Ahlulbayt as.

Di titik ini, bahaya bukan lagi pada orang itu saja, tetapi pada orang-orang yang
mengikutinya tanpa tolok ukur, tanpa ilmu, tanpa ketelitian.
Catatan :
Penyimpangan dalam agama tidak selalu datang dari orang bodoh, seringkali justru dari
orang yang tampak paling “alim”, tetapi terputus dari jalur yang benar. Jalur suci Ilahi :
Imam Zaman as.