Akidah Raj’ah Tergerus Mazhab
Ketika Syiah berhenti menjadi sebuah jalan kesadaran… Dari satu-satunya agama yang turun Dari langit di Bumi Ghadir Khum…
dan berubah hanya menjadi mazhab formal,
maka sejak saat itu seluruh gagasan revolusioner Ahlulbayt mulai dijinakkan.
Ali tidak lagi dipahami sebagai ledakan keadilan dalam sejarah,
tetapi hanya nama yang digantung di dinding-dinding rumah.
Husain tidak lagi menjadi api perlawanan melawan struktur kezaliman,
tetapi sekadar musim tangisan tahunan.
Dan Raj‘ah…
Raj‘ah yang dahulu merupakan janji kembalinya kebenaran ke bumi,
perlahan berubah menjadi hiasan kalimat dalam doa-doa.
Ia dibaca—tetapi tidak diyakini dengan kesadaran sejarah.
Disebut—tetapi tidak menggetarkan jiwa.
Ditulis dalam kitab-kitab ziarah—tetapi tidak hadir dalam cara berpikir umat.
Inilah tragedi terbesar ketika Syiah berubah dari agama pembebasan menjadi identitas mazhab.
Mazhab hanya sibuk menjaga bentuk.
Sedangkan agama para nabi datang untuk mengguncang manusia.
Ketika Syiah menjadi sekadar mazhab,
manusia mulai merasa cukup dengan afiliasi.
Cukup dengan simbol.
Cukup dengan ratapan.
Cukup dengan slogan cinta Ahlulbayt.
Padahal Ahlulbayt tidak datang untuk menciptakan komunitas sentimental.
Mereka datang untuk membangun manusia yang siap memikul proyek Allah di bumi.
Karena itu akidah Raj‘ah sangat berbahaya bagi jiwa-jiwa yang telah berdamai dengan dunia.
Raj‘ah berarti sejarah belum selesai.
Raj‘ah berarti para pembunuh kebenaran belum lolos.
Raj‘ah berarti Husain akan kembali sebagai kemenangan, bukan sekadar tragedi.
Raj‘ah berarti Ali akan kembali sebagai pemerintahan, bukan sekadar pujian.
Dan justru karena itulah Raj‘ah dipinggirkan.
Ia dibiarkan hidup hanya di pinggir doa-doa,
agar tidak berubah menjadi kesadaran sosial dan revolusi ruhani.
Mereka membacanya dalam Ziyarat Aal Yasin:
أَنَّ رَجْعَتَكُمْ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهَا
“Sesungguhnya raj‘ah kalian adalah benar, tidak ada keraguan di dalamnya.”
Tetapi bacaan itu tidak lagi melahirkan guncangan eksistensial.
Tidak lagi melahirkan manusia yang merasa sedang hidup di tengah proyek akhir zaman.
Padahal para imam berkata:
من لم يؤمن برجعتنا فليس منا
“Barangsiapa tidak beriman kepada raj‘ah kami, maka ia bukan dari golongan kami.”
Namun umat yang telah terbiasa menjadikan agama sebagai tradisi tidak lagi merasa terguncang oleh kalimat sebesar ini.
Karena agama yang telah berubah menjadi budaya selalu takut kepada gagasan yang menghidupkan sejarah.
Raj‘ah adalah ancaman bagi agama yang telah membatu menjadi institusi.
Sebab Raj‘ah mengajarkan bahwa Allah akan mengembalikan para wali-Nya ke bumi untuk menyempurnakan pertarungan sejarah.
Bahwa kezaliman tidak akan dibiarkan mati secara alami.
Bahwa darah para syuhada menuntut manifestasi keadilan di dunia nyata.
Syiah yang sejati bukan Syiah yang hanya menunggu sambil menangis.
Tetapi Syiah yang hidup dengan kesadaran bahwa ia sedang berdiri di tengah perjalanan panjang menuju kemunculan kembali kebenaran.
Dan orang yang kehilangan Raj‘ah…
perlahan akan kehilangan makna penantian.
Kehilangan makna Imam Zaman.
Bahkan kehilangan makna mengapa Ali dan Husain dahulu ditumpahkan darahnya.
Karena Raj‘ah adalah jantung dari sejarah Ahlulbayt.
Tanpanya, agama berubah menjadi museum kenangan.
Sejak tahu realitas ini Aku ucapkan : Selamat Tinggal “Mazhab” Aku berlepas diri Dari mu Dan Selamat datang kembali Agama alGhadir dalam pelukan hangat hatiku sepenuh keyakinan.
Ahlan wa Sahlan Yaa diina Muhammad wa aali Muhammad..
Selamat datang kembali Wahai agama Muhammad Dan keluarga Muhammad yang pernah hilang Dari kesadaranku…
