Umur Itu Satu: Melayani Imam Zaman as

Apa yang pantas kita dengarkan?
Apa yang layak kita kejar?
Apa yang benar-benar bernilai?

Jawabannya sederhana tapi memukul bagi yang lalai:

Tidak ada yang bernilai… kecuali yang tersambung kepada Imam Zaman as.

Kita hidup mengumpulkan sesuatu yang pasti akan hilang.
Kita mencintai sesuatu yang pasti akan ditinggalkan.

Harta? pergi.
Kedudukan? runtuh.
Relasi? terputus.

Dan kematian datang :
tanpa izin, tanpa jeda, tanpa negosiasi.

Satu detik. Satu hentakan saja. Selesai.

Di saat itu, tidak ada lagi: Revisi hidup. Perbaikan niat. Kesempatan kedua.

Yang tersisa hanya satu pertanyaan: Apa yang sudah kau persembahkan demi
Imam Zaman as?


Kita menyeberang kea lam lain, tanpa membawa apa pun.

Tidak keluarga. Tidak sahabat. Tidak kenangan. Kosong.

Kecuali satu hal.

Satu-satunya yang ikut:

Pelayanan kita kepada Imam Zaman as.

Bukan banyaknya. Bukan lamanya.

Tapi: Kejujurannya. Ketulusannya dan kesesuaiannya dengan jalan Imam as

Jangan tertipu oleh angka umur : Sembilan puluh tahun. Buat apa jika kosong
dari pelayanan.

Sebaliknya:

Beberapa menit yang jujur dalam melayani Imam Zaman as adalah seluruh
umur. Umur yang sesungguhnya berkualitas.

Umur bukan waktu yang kita jalani. Umur adalah ukuran pengabdian kita.

Selain itu, hanyalah penundaan kematian.

Musuh terbesar

Bukan dunia. Bukan orang lain.

Tapi:

Malas. Lalai. Menunda. Merasa “nanti saja”.

Itulah racun yang mematikan umur sebelum mati.
Kita sakit, bukan karena tidak tahu.
Tapi karena tidak bergerak.
Dan kita tidak akan sembuh
tanpa keberanian untuk berubah.

Kita tidak sedang hidup untuk hidup.
Kita hidup untuk melayani. Melayani program Imam Zaman as.

Dan jika hidup ini tidak menjadi pelayanan , maka ia hanya proses panjang
menuju kehilangan.