Monoloyalitas

__

Imam Ali alaihisalam bersabda :

Temanmu ada Tiga macam Dan musuhmu pun tiga macam

أصدقاؤك ثلاثة وأعداؤك ثلاثة…
Lalu Ahlulbayt alaihimusalam mengajarkan bersikapbdalam ziarah:

فمعكم معكم لا مع غيركم
“Bersama kalian… bersama kalian… bukan bersama selain kalian.”
Ini bukan kalimat emosional. Ini deklarasi posisi.
Ini adalah sumpah loyalitas ruh.
Sebab agama bukan sekadar mengetahui kebenaran. Iblis pun tahu Allah ada.
Tetapi agama adalah: di pihak siapa engkau berdiri.

Karena itu kalimat:
“فمعكم معكم لا مع غيركم”
bukan sekadar cinta kepada .
Ia adalah pemutusan hubungan dengan seluruh jalan selain jalan Imam alaihisalam :
“Bersama kalian…” dalam cara berpikir. Dalam cara memandang dunia. Dalam memahami Allah. Dalam memahami manusia. Dalam memahami keadilan. Dalam memahami sejarah. Dalam memahami siapa musuh sebenarnya.
“Bukan bersama selain kalian.”
Bukan bersama sistem yang dibangun di atas ego manusia. Bukan bersama peradaban yang memusuhi wilayah. Bukan bersama pemikiran yang menjadikan akal liar lebih tinggi daripada hujjah Allah. Bukan bersama spiritualitas tanpa Imam. Bukan bersama ilmu yang memutus manusia dari cahaya Ahlulbayt.
Karena tragedi terbesar manusia bukan kebodohan…
tetapi loyalitas yang salah.
Dan Al-Qur’an telah menggambarkan manusia semacam ini:

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا ۖ وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ
“Dan apabila mereka bertemu orang-orang beriman mereka berkata: ‘Kami beriman.’ Tetapi ketika mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami bersama kalian.’”

Lihat betapa mengerikannya ayat ini.
Masalah mereka bukan lisannya.
Lisannya bersama orang beriman.
Tetapi batinnya bersama “syayathin”. Setan-setan.
Dan Al-Qur’an sangat teliti: Allah tidak mengatakan: “kepada teman-teman mereka.”
Allah mengatakan:
“إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ”
“kepada setan-setan mereka.”

Karena setiap sistem pemikiran yang menjauhkan manusia dari hujjah Allah alaihisalam… pada hakikatnya adalah setan Dan ke-setan-an.
Hari ini berapa banyak manusia yang lisannya berkata: “Ya Mahdi…”
Tetapi ketika kembali kepada lingkungan sejatinya… kepada media yang ia cintai… kepada pemikir yang ia kagumi… kepada ideologi yang ia bela… kepada dunia yang ia sembah…
diam-diam ia berkata:
“إِنَّا مَعَكُمْ”
“Sesungguhnya kami bersama kalian.”

Inilah kemunafikan yang tidak Disadari oleh penderitanya.
Tubuhnya mungkin berada di majelis Imam Zaman alaihisalam . Tetapi kesadarannya berada di kubu lain.
Ia mengukur segalanya dengan ukuran dunia musuh Imam alaihisalam. Ia memandang kemuliaan dengan standar musuh Imam alaihisalam. Ia memandang kemenangan dengan definisi musuh Imam alaihisalam.
Lalu bagaimana mungkin ia benar-benar bersama Imam Zaman alaihisalam?
Karena bersama Imam Zaman alaihisalam bukan sekadar hadir di majelis. Bukan sekadar menangis. Bukan sekadar slogan.

“فمعكم معكم لا مع غيركم”

berarti: aku serahkan arah hidupku kepada kalian. Aku tinggalkan seluruh jalan selain jalan kalian. Aku tidak mengambil makrifah dari selain kalian. Aku tidak mengambil cahaya dari selain kalian. Aku tidak menjadikan selain kalian sebagai pusat kesadaranku. Aku hanya mengambil Makna Quran dari kalian.
Sebab manusia akhirnya akan menyerupai siapa yang paling ia ikuti.
Dan peperangan terbesar bukan perang senjata…
tetapi perang loyalitas batin.
Siapa yang benar-benar bersama Imam Zaman alaihisalam… dan siapa yang hanya mengucapkan nama Imam Zaman alaihisalam sambil hidup di bawah bayangan musuh-musuh beliau.

La hawla walaa quwwata illa billah.