Jika kita kembali kepada kisah Adam as dan sujudnya para malaikat—Allah memerintahkan
malaikat untuk bersujud kepada Adam as, dan seluruh malaikat bersujud sebagaimana
ditegaskan oleh Al-Qur’an.

Sujud ini, sebagaimana dijelaskan oleh Jafar ash-Shadiq as, pada hakikatnya adalah sujud
kepada Allah. Namun secara lahiriah, sujud itu dilakukan kepada Adam as.

Dalam riwayat Mi’raj, disebutkan bahwa Muhammad saw berkata kepada Jibril as:
“Majulah.”
Jibril as menjawab: “Sejak kami bersujud kepada Adam as, kami tidak pernah
mendahuluinya.”

Artinya, sujud itu memang kepada Adam as, tetapi atas perintah Allah. Arah ibadah tampak
menuju Adam as, namun hakikatnya adalah untuk Allah.

Sebagaimana Allah menjadikan sujud kepada Adam as sebagai jalan, Allah juga menjadikan
ma’rifat kepada-Nya melalui ma’rifat kepada Imam Zaman as.

Dari sinilah muncul ungkapan: “Barangsiapa mengenal Imam, maka ia telah mengenal
Allah.”

Ketika aku berbicara kepadamu, aku menghadap wajahmu. Aku tidak berbicara kepada
punggungmu, tetapi kepada wajahmu. Namun, apakah aku benar-benar berbicara hanya
kepada wajahmu?

Tidak. Aku berbicara kepadamu—yang terdiri dari ruh dan jasad. Namun lebih dalam lagi,
aku berbicara kepada “hakikatmu”.

Hakikat itu bukan sekadar wajah, bukan sekadar tubuh dan ruh, melainkan sesuatu yang
lebih dalam—inti dirimu. Bahkan jika tubuh berubah atau rusak, hakikat dirimu tetap sama.

Maka dalam komunikasi ini, aku sebenarnya berhadapan dengan tiga lapisan: wajah (yang
tampak), diri sebagai gabungan ruh dan jasad, dan hakikat terdalam (identitas sejati).
Ketiganya tidak bisa dipisahkan dalam pengalaman nyata.

Manusia sebagai makhluk jasad-ruh adalah simbol dari *hakikat Muhammadiyah*. Wajah
adalah “arah” yang tampak, sedangkan hakikat terdalam adalah makna yang merujuk
kepada Allah.

Kita tidak bisa mencapai hakikat itu kecuali melalui perantara bentuk lahir. Sebagaimana
kita tidak bisa mengenal seseorang tanpa wajahnya, kita juga tidak bisa mencapai hakikat
ilahi tanpa “wajah” yang menjadi perantara.

Maka Imam adalah “wajah” itu—*Wajhullah* (Wajah Allah) yang menjadi arah para wali.

Manusia selalu berhubungan dengan tiga lapisan: yang tampak, yang hidup, dan yang hakiki.
Kita menghadap yang tampak, berinteraksi dengan yang hidup, tetapi sesungguhnya
mencari yang hakiki.

Dalam logika ini: yang lahir bukan tujuan, tetapi jalan menuju yang batin.

Sujud kepada Adam as bukan penyimpangan, melainkan metode ilahi: menghadap makhluk
untuk sampai kepada Tuhan. Demikian pula, mengenal Imam bukan berhenti pada manusia,
tetapi menembus menuju makna ilahi.

Tuhan tidak dijangkau secara langsung, tetapi melalui “wajah” yang Dia tetapkan—dan pada
wajah itulah arah pencarian manusia menemukan maknanya.

Ketika kita berinteraksi dengan dunia atau dengan sesama manusia, sesungguhnya kita tidak
hanya menghadapi yang tampak—wajah, tubuh, atau perilaku—tetapi juga hakikat yang ada
di baliknya. Begitu pula dalam spiritualitas: sujud kepada Adam as, atau ma’rifat kepada
Imam, bukan sekadar menghormati yang lahiriah, tetapi jalan untuk menghadap Hakikat
Ilahi.

Artinya: yang nyata adalah perantara, bukan tujuan akhir. Wajah, tubuh, dan eksistensi lahir
kita adalah “media komunikasi” dengan yang hakiki. Dan di sinilah filsafat komunikasi dan
spiritual bersatu: untuk mengenal Tuhan atau makna terdalam kehidupan, kita harus
menempuh jalur perantara yang Allah tetapkan—tanpa memisahkan lahir dan batin, tampak
dan hakikat, manusia dan Ilahi.