Hanya ada Tiga Jenis Manusia


Imam Ali alaihisalam pernah mengguncang fondasi sejarah manusia dengan satu kalimat saja :
“Janganlah engkau menjadi budak orang , padahal Allah telah menciptakanmu merdeka.”
Tetapi lihatlah manusia.
Betapa banyak yang lahir sebagai manusia— namun mati sebagai budak.
Sebab perbudakan tidak selalu berupa rantai besi. Kadang ia berbentuk opini. Kadang mayoritas. Kadang ketakutan. Kadang hawa nafsu.

Ya , makanya,

Manusia terbagi menjadi tiga golongan:
Golongan pertama: manusia terjajah.
Ia tidak memiliki dirinya sendiri.
Kesadarannya dipinjam. Cara berpikirnya diproduksi. Arah hidupnya ditentukan oleh orang lain.
Ia hidup mengikuti arus.
Ketika dunia bergerak ke Barat, ia bergerak ke Barat.
Ketika massa berteriak ke Timur, ia ikut berteriak ke Timur.
Bukan karena ia memahami. Tetapi karena ia takut sendirian.
Ia tidak punya gagasan. Tidak punya keberanian. Tidak punya poros batin.
Ia hanyalah gema dari suara terbanyak.
Inilah manusia yang telah kehilangan kemanusiaannya sebelum mati.

Golongan kedua: manusia bebas.
Ia berkata:
“Aku tidak tunduk kepada siapa pun.” “Aku bebas.” “Aku melakukan apa yang aku inginkan.”
Dan benar— tidak ada penguasa yang mengendalikannya.
Tetapi ia lupa satu hal:
nafsunya telah menjadi rajanya.
Keserakahannya menjadi undang-undangnya. Syahwatnya menjadi kiblatnya. Egonyalah yang memerintah seluruh hidupnya.
Karena itu Ali Salam atasnya berkata:
“Janganlah ketamakan memperbudakmu, Karna Allah telah menjadikanmu manusia merdeka.”

Betapa dahsyat kalimat ini.

Ali Salam atasnya tidak hanya memerangi perbudakan politik. Ia memerangi kolonialisme batin.
Sebab seseorang bisa keluar dari penjara negara— tetapi tetap menjadi budak dirinya sendiri.

Dan budak yang paling sulit dibebaskan adalah budak hawa nafsunya.

Golongan ketiga: manusia merdeka.
Inilah manusia yang berdiri di atas dua pembebasan: bebas dari tirani luar, dan bebas dari tirani dalam.
Ia tidak dijajah massa. Dan tidak pula dijajah egonya.
Ia berpijak pada akal, pada nurani, pada kebenaran.
Maka ketika seluruh manusia berjalan ke Barat, dan ia melihat cahaya berada di Timur, ia akan berjalan sendiri menuju Timur.

Meski ditertawakan. Meski dianggap asing. Meski harus melawan seluruh zaman.
Karena manusia merdeka tidak menjadikan mayoritas sebagai ukuran.
Ia menjadikan kebenaran sebagai kiblat.
Dan inilah tauhid yang diajarkan Ali alaihi Salam.
Bukan sekadar mengucapkan: “La ilaha illallah.”
Tetapi menghancurkan seluruh tuhan palsu: tuhan massa, tuhan kekuasaan, tuhan ketakutan, tuhan syahwat, dan bahkan tuhan bernama “ego”.
Sebab manusia merdeka hanya sujud kepada Allah. Pada Kebenaran .

Dan siapa yang hanya sujud kepada Allah— dia tidak akan tunduk kepada selain-Nya.

Dan ia Tau ketaatannya pada Imam Zaman alahisalam adalah jalan satu-satunya untuk taat kepada Tuhannya.