Dari Makrifah Teoritis Menuju Makrifah Bi Nauraniyyah

Makrifah itu memiliki dua tingkatan.

Tingkat pertama adalah makrifah teoritis: pengetahuan yang diperoleh melalui belajar, membaca, mendengar, menghafal, berdiskusi, dan menelaah riwayat-riwayat para Imam. Pada tingkat ini seseorang mengenal agama melalui kata-kata. Ia memahami dalil, mengenal istilah, mengetahui sejarah, bahkan mampu menjelaskan keyakinannya kepada orang lain. Ini adalah pintu awal perjalanan. Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada kedalaman tanpa terlebih dahulu melewati gerbang ilmu.

Tetapi ada tingkatan kedua yang jauh lebih dalam: makrifah bi nuraniyyah. Sebuah pengenalan yang tidak lagi berhenti pada lafaz, melainkan berubah menjadi cahaya di dalam hati. Ia bukan sekadar mengetahui tentang Imam, tetapi merasakan kehadiran petunjuk Imam di dalam batin manusia. Pada titik ini agama tidak lagi hanya dipikirkan, tetapi dialami.

Karena itu ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib alaihisalam didatangi oleh Salman dan AbuDzar, beliau bertanya:

ما جاء بكما
“Apa yang membawa kalian datang?”

Keduanya menjawab:

«جئناك يا أمير المؤمنين، نسألك عن معرفتك بالنورانية.»

“Kami datang kepadamu wahai Amirul Mukminin untuk bertanya tentang ma’rifatmu dengan nuraniyyah.”

Perhatikan pertanyaan mereka. Mereka tidak meminta tambahan informasi. Mereka tidak sedang mencari perdebatan intelektual. Mereka sedang mencari cahaya. Sebab mereka memahami bahwa ada pengetahuan yang hanya tinggal di kepala, dan ada pengetahuan yang turun menjadi kehidupan di dalam hati.

Imam Ja’far ash-Shadiq alaihsalam menggambarkan hakikat ini dengan sangat indah:

«إن شيعتنا أصحاب الأرض، أصحاب العيون، الأرض عينان في الرأس لأمر الدنيا، وعينان في القلب لأمر الدين، فإذا أراد الله برجل خيراً فتح عينيه اللتين في قلبه.»

“Sesungguhnya syiah kami adalah pemilik bumi, pemilik mata. Manusia memiliki dua mata di kepala untuk urusan dunia, dan dua mata di hati untuk urusan agama. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, Dia akan membuka dua mata yang ada di hatinya.”

Kita hidup di zaman ketika mata kepala sangat sibuk, tetapi mata hati justru tertidur. Kita mampu melihat dunia dengan jelas, tetapi sering gagal melihat diri sendiri. Kita dapat membaca ribuan halaman kitab, namun belum tentu mampu menangkap cahaya yang tersembunyi di baliknya.

Makrifah teoritis membuat seseorang mengenal istilah-istilah agama. Tetapi makrifah nuraniyyah membuat seseorang mengenal Allah melalui cahaya para wali-Nya.

Karena itu Imam Ali alaihisalam menyambut Salman dan Abu Dzar ra dengan ucapan yang agung:

«مرحباً بكما من وليين متعاهدين لدينه لستما بمقصرين.»

“Selamat datang kepada kalian berdua, dua wali yang menjaga agamanya; kalian bukan orang-orang yang lalai.”

Seolah-olah Imam ingin mengatakan bahwa mencari makrifah nuraniyyah bukanlah perkara tambahan dalam agama. Ia adalah bagian dari kesempurnaan iman. Orang yang berhenti hanya pada pengetahuan lahiriah, sementara pintu cahaya masih terbuka di hadapannya, belum menyelesaikan perjalanannya.

Lalu Imam berkata:

«لعمري إن ذلك الواجب على كل مؤمن ومؤمنة.»

“Demi umurku, sesungguhnya itu adalah kewajiban atas setiap mukmin laki-laki dan perempuan.”

Betapa banyak orang mengira bahwa kedalaman spiritual hanyalah milik segelintir manusia pilihan. Padahal Imam menyebutnya sebagai kewajiban bagi setiap mukmin dan mukminah.

Kemudian beliau menjelaskan:

«إنه لا يستكمل أحد الإيمان حتى يعرفني كل معرفتي بالنورانية، فإذا عرفني بهذه المعرفة فقد امتحن الله قلبه للإيمان وشرح صدره للإسلام وصار عارفاً مستبصراً، ومن قصر عن معرفة ذلك فهو شاك ومرتاب.»

“Tidaklah seseorang menyempurnakan iman hingga ia mengenalku dengan seluruh ma’rifatku secara nuraniyyah. Jika ia mengenalku dengan ma’rifat itu, Allah telah menguji hatinya untuk iman, melapangkan dadanya untuk Islam, dan menjadikannya seorang yang arif dan memiliki bashirah. Barangsiapa lalai dari ma’rifat itu, maka ia adalah orang yang ragu dan bimbang.”

Makrifah kepada Imam bukanlah pengultusan manusia. Ia adalah perjalanan mengenali cahaya Allah yang dipantulkan melalui insan suci. Imam adalah cermin petunjuk Ilahi. Maka mengenal Imam secara nuraniyyah berarti membuka hati terhadap cahaya itu.

Namun perjalanan menuju cahaya tidak dimulai secara tiba-tiba. Ia dimulai dari kebersamaan dengan ucapan-ucapan mereka.

Dalam Ziarah Jami’ah Kabirah disebutkan:

«كلامكم نور.»

“Ucapan kalian adalah cahaya.”

Kalimat ini bukan sekadar pujian. Ia adalah metode perjalanan ruhani. Sebab hati manusia dibentuk oleh apa yang terus-menerus ia dengar dan ia hayati. Jika hati setiap hari dipenuhi oleh hiruk-pikuk dunia, maka ia akan menjadi keras. Tetapi jika ia hidup bersama hadis-hadis Ahlulbait, maka perlahan cahaya itu akan meresap ke dalam dirinya.

Karena itu para Imam berkata:

«حديثهم جلاء للقلوب.»

“Hadis mereka adalah pengilat bagi hati.”

Dosa, kesombongan, cinta dunia, dan kelalaian adalah karat yang menutupi hati manusia. Dan hadis-hadis Ahlulbait datang untuk membersihkannya sedikit demi sedikit.

Makrifah nuraniyyah tidak lahir hanya dari banyaknya bacaan, tetapi dari kedekatan ruhani yang terus dipelihara. Dari membiasakan diri hidup bersama cahaya mereka. Dari menjadikan ucapan mereka sebagai teman perjalanan jiwa.

Sebab manusia selalu dipengaruhi oleh apa yang ia dekatkan kepada dirinya. Orang yang duduk lama bersama penjual minyak wangi akan membawa harum wanginya meskipun ia tidak membeli apa pun. Begitu pula orang yang hidup bersama cahaya Ahlulbait — perlahan hatinya akan ikut bercahaya, pikirannya menjadi jernih, dan jiwanya mulai mengenal jalan pulang menuju Allah.