Cucu Iblis Bertaubat Dan Berwilayah Kepada Ali as
Seorang lelaki asing berkata bahwa nasabnya kembali kepada Iblis, dan bahwa ia telah hidup bersama para nabi salam atas mereka , selama berabad-abad, lalu ia mengungkapkan suatu rahasia besar di hadapan para sahabat Nabi saw —maka inilah yang diriwayatkan:
Diriwayatkan dengan sanad dari al-Husain alaihisalam , dari kakeknya Rasulullah saw , beliau bersabda:
“Pada suatu hari aku berada di masjid, tiba-tiba masuk kepada kami seorang lelaki tinggi, seakan-akan seperti pohon kurma. Ketika ia melangkahkan kakinya, aku berkata: ‘Bukankah ini bukan dari keturunan Adam alaihisalam ?’
Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah ada makhluk selain dari keturunan Adam alaihislam ?’
Beliau bersabda: ‘Ya, ini salah satunya.’
Lalu lelaki itu mendekat dan memberi salam kepada Nabi saw . Nabi saw menjawab seraya bertanya : ‘Siapa engkau?’
Ia berkata: ‘Aku al-Haam al-Wahim, dari keturunan Iblis.’
Nabi saw bertanya: ‘Berapa jarak antara engkau dan Iblis?’
Ia menjawab: ‘Beberapa generasi, wahai Rasulullah saw .’
Nabi saw bertanya: ‘Berapa nabi yang telah engkau temui?’
Ia berkata: ‘Sejak Qabil laknat Allah atasnya membunuh Habil salam atasnya , saat itu aku masih kecil, aku memahami ucapan dan memberi jawaban, dan aku dahulu memerintahkan memutus silaturahmi.’
Nabi saw bersabda: ‘Itu seburuk-buruk jalan.’
Ia berkata: ‘Tidak, wahai Rasulullah saw , aku telah bertaubat.’
Nabi saw bertanya: ‘Melalui siapa engkau bertaubat?’
Ia menjawab: ‘Melalui Nabi Nuh alaihisalam . Aku menegurnya atas doanya terhadap kaumnya, lalu aku termasuk orang yang bersalah dan aku berlindung kepada Allah dari menjadi orang yang jahil.’
Ia berkata: ‘Aku kemudian bertemu Hud alaihisalam , lalu aku shalat bersamanya dan membaca dari Suhuf yang diajarkan kepadaku dari apa yang diturunkan kepada Idris alaihisalam. Aku bersamanya hingga Allah menurunkan angin yang membinasakan kaumnya, maka Allah menyelamatkannya dan aku bersamanya.’
‘Kemudian aku bersama nabi Shalih alaihisalam hingga Allah menurunkan gempa kepada kaumnya, maka ia selamat dan aku bersamanya. Lalu aku bertemu Ibrahim alaihisalam —ayahmu — dan aku menemaninya. Aku memintanya mengajarkanku dari Suhuf yang diturunkan kepadanya, maka ia mengajarkanku, dan aku shalat bersamanya. Ketika kaumnya melemparkannya ke dalam api, Allah menjadikannya dingin dan keselamatan baginya, dan aku bersamanya hingga wafat.’
‘Aku juga bersama Ismail, Ishaq, dan Ya‘qub salam atas mereka semua . Aku bersama Yusuf alaihisalam di dalam sumur, menemaninya hingga Allah mengeluarkannya dan memberinya kekuasaan di Mesir serta mengembalikan kedua orang tuanya.’
‘Aku bertemu Musa alaihisalam , dan aku meminta dia mengajarkanku dari Taurat, maka ia mengajarkanku. Setelah ia wafat, aku bersama washinya Yusha‘ bin Nun alaihisalm . Aku terus bersama para nabi hingga Daud laihisalam, lalu aku bersamanya ketika ia membunuh Jalut, dan aku belajar Zabur darinya. Aku bersama Sulaiman alaihisalam setelahnya, lalu bersama Asif bin Barkhiya alaihisalam’
‘Aku terus bersama para nabi satu demi satu, dan semuanya memberi kabar gembira tentangmu serta menyampaikan salam kepadamu, hingga aku bersama Isa alaihisalam, dan aku menyampaikan kepadamu salam dari seluruh nabi, dan dari Isa alaihisalam secara khusus.’
Maka Rasulullah saw bersabda:
“Salam atas seluruh nabi Allah dan rasul-Nya, dan atas saudaraku Isa dariku, selama langit dan bumi masih ada. Dan atasmu wahai Haam, salam—engkau telah menjaga wasiat dan menunaikan amanah. Maka katakanlah apa keperluanmu.”
Ia berkata:
“Wahai Rasulullah, keperluanku adalah agar engkau memerintahkan umatmu untuk tidak menyelisihi wasi setelahmu, karena aku melihat umat-umat terdahulu binasa karena meninggalkan para wasi nabi-nabi mereka.”
Nabi saw bersabda:
“Apakah engkau mengenal wasiku?”
Ia berkata: “Jika aku melihatnya, aku akan mengenalnya dengan sifat dan namanya yang telah aku baca dalam kitab-kitab.”
Nabi saw bersabda: “Lihatlah, apakah engkau melihatnya di antara kami?”
Ia melihat ke kanan dan kiri lalu berkata: “Tidak ada di antara mereka.”
Kemudian Nabi saw menyebutkan para wasi nabi- nabi satu per satu, dari Adam alaihisalam hingga Isalaihisalam ، dan lelaki itu membenarkannya.
Lalu ia berkata:
“Nama engkau dalam Taurat adalah ‘Nibo’, dan nama wasimu ‘Ilya’. Dalam Injil engkau ‘Himyata’, dan wasimu ‘Qaidar’. Dalam Zabur engkau ‘Mahmah’, dan wasimu ‘Fariqliqa’.”
Maka Nabi saw bertanya tentang makna nama-nama itu, dan ia menjelaskan:
Makna “Himyata”: “yang terpilih al-mushtafa ”.
Makna “Ilya”: “wali setelahmu”.
Makna “Fariqliqa”: “pembeda agung antara hak dan batil”
Rasulullah saw berkata:
“Wahai Haam, jika engkau melihatnya, apakah engkau akan mengenalnya?”
Ia berkata:
“Ya, wahai Rasulullah saw. Ia adalah seorang lelaki dengan kepala bulat, tubuh sedang, jauh dari keburukan rupa, dada bidang seperti singa, bermata besar, berotot pada kedua pahanya, betisnya ramping, perutnya besar, dan kedua bahunya seimbang.”
Maka Rasulullah saw bersabda:
“Wahai Salman, panggillah untuk kami Ali alaihisalam.”
Maka datanglah Ali alaihisalam hingga masuk ke dalam masjid. Lalu Haam menoleh kepadanya dan berkata:
“Inilah dia, wahai Rasulullah saw. Demi ayah dan ibuku, inilah wasimu, wahai Rasulullah. Maka perintahkanlah umatmu agar tidak menyelisihinya setelahmu, karena jika mereka menyelisihinya, mereka akan binasa sebagaimana umat-umat terdahulu binasa karena menyelisihi para wasi.”
Rasulullah saw bersabda:
“Kami telah melakukannya, wahai Haam. Apakah engkau memiliki hajat ? Sesungguhnya aku ingin memenuhinya untukmu.”
Ia berkata:
“Ya, wahai Rasulullah saw. Aku ingin engkau mengajarkanku dari Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu, dan menjelaskan kepadaku sunnahmu serta syariat-syariatmu agar aku dapat shalat dengan shalatmu.”
Rasulullah saw bersabda:
“Wahai Aba al-Hasan, dekatkan dia kepadamu dan ajarkanlah.”
Ali alaihisalam berkata:
“Maka aku mengajarkannya surat al-fatihah, dan al-falaq dan an-Nas, dan surat al-ikhlash, dan ayat kursi, serta beberapa ayat dari surat al-Baqarah dan surat al-A’raf dan surat al-an’am dan surat al-anfal.”
Kemudian ia menghilang, dan kami tidak melihatnya lagi hingga hari perang Shiffin.
Ketika malam al-Harir, terdengar seruan:
“Wahai Amirul Mukminin, singkapkan kepalamu, karena aku mendapatimu dalam kitab sebagai seorang yang botak.”
Maka Ali alaihisalam berkata:
“Aku adalah orang itu.”
Lalu beliau menyingkap kepalanya dan berkata:
“Wahai yang menyeru, tampakkanlah dirimu, semoga Allah merahmatimu.”
Maka ia pun tampak, ternyata ia adalah Haam al-Munhim.
Ali alaihisalam berkata:
“Siapakah engkau?”
Ia berkata:
“Aku adalah orang yang Allah telah memberiku nikmat melalui tanganmu, engkau telah mengajarkanku Kitab Allah, dan aku telah beriman kepada Muhammad saw.”
Ali alaihisalam berkata:
“Maka saat itu aku memberi salam kepadanya, lalu ia berbicara denganku dan bertanya kepadaku.”
Kemudian ia berperang di hadapannya hingga pagi, lalu ia menghilang.
Al-Ashbagh bin Nubatah berkata:
“Aku bertanya kepada Amirul Mukminin Ali alaihisalam setelah itu tentangnya.”
Beliau berkata:
“Haam al-Munhim telah terbunuh, semoga Allah merahmatinya.”
