Berlari menuju Allah
﴿فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ﴾
“Larilah menuju Allah.”
Tetapi ke mana manusia akan lari?
Allah bukan arah.
Bukan tempat.
Bukan objek perjalanan kaki.
Maka setiap orang yang mengira dirinya bisa sampai kepada Allah tanpa jalan yang Allah tetapkan…
sesungguhnya ia sedang lari menuju dirinya sendiri.
Inilah tragedi agama sepanjang sejarah.
Manusia ingin Tuhan…
tetapi menolak wakil Tuhan.
Ingin cahaya…
tetapi memadamkan lampunya.
Padahal Allah tidak pernah dikenal tanpa hujjah-Nya.
Siapa Ibrahim tanpa wahyu?
Siapa Musa tanpa kalimah Allah?
Siapa umat tanpa imam?
Karena itu “lari menuju Allah” selalu berarti lari menuju manifestasi hidayah-Nya di bumi.
Dan setelah Rasulullah shalawatdan salam atasnya tidak ada jalan menuju Allah selain Ali bin Abi Thalib dan para Imam Ahlbayt salam atas mereka.
Merekalah wajah agama.
Merekalah tafsir Al-Qur’an yang hidup.
Merekalah arah yang tidak menyesatkan.
Manusia modern berbicara tentang hubungan langsung dengan Tuhan.
Tetapi itu sering hanya kedok ego spiritual.
Karena manusia yang menolak Imam…
sebenarnya sedang menjadikan dirinya sendiri sebagai imam.
Ia memilih agama sesuai selera.
Memilih tafsir sesuai hawa nafsu.
Memilih kebenaran sesuai kenyamanan.
Lalu ia berkata:
“Aku menuju Allah.”
Tidak.
Ia menuju dirinya sendiri.
Sebab Allah tidak membuka pintu-Nya untuk dimasuki sesuka manusia.
Allah memiliki pintu.
Dan pintu itu adalah hujjah-Nya.
Hari ini…
pintu itu adalah Muhammad al-Mahdi salam Atasnya.
Imam Zaman salam Allah atasnya.
Maka hakikat:
﴿فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ﴾
Berlarilah menuju Allah
dalam zaman ini berarti:
larilah menuju Imam Zaman Salam atasnya.
Larilah dari ulama dunia menuju hujjah Allah.
Larilah dari kebisingan ideologi menuju suara Imam.
Larilah dari agama warisan menuju agama yang hidup bersama wali Allah.
Karena akhir zaman adalah zaman kebingungan.
Semua berbicara atas nama agama.
Tetapi tidak semua berbicara dari cahaya Imam.
Dan manusia yang tidak menjadikan Imam Zaman sebagai poros kesadarannya…
akan dimakan fitnah sambil mengira dirinya sedang membela agama.
Inilah luka terbesar umat.
Mereka merindukan Allah…
tetapi asing dari wali Allah.
Menangis untuk Imam Husain…
tetapi tidak hidup untuk Imam Mahdi.
Padahal seluruh jalan para Imam berujung kepada beliau.
Dan manusia yang tidak belajar lari menuju Imamnya hari ini…
akan terlambat ketika dunia runtuh di hadapannya dan ia menjerit:
“Ke mana tempat lari?”
Duhai kemanakah tempat aku menuju…
