AL-ISLAM

AKAR DAN RANTING

Ada satu kekeliruan yang sering terjadi—
manusia sibuk merapikan ranting,
sementara akarnya dibiarkan retak.

Ia teliti dalam ibadah,
hati-hati dalam hukum,
bahkan berdebat panjang tentang detail-detail kecil—

namun ia lupa satu hal:
apakah fondasinya masih utuh?


Dalam masa kegaiban,
urusan-urusan ibadah yang bersifat cabang (ranting)
tidak pernah lepas dari ijtihad.

Dan ijtihad—sehebat apa pun—
tetaplah hasil kerja manusia yang tidak ma’shum.

Ia bisa benar.
Ia bisa meleset.

Ia bisa mendekati yang ideal—
tetapi tidak pernah mencapai kemutlakan.

Maka siapa pun mujtahidnya,
setinggi apa pun kedudukannya di mata manusia—
hasilnya tetap berada dalam wilayah kemungkinan,
bukan kepastian mutlak.


Di sinilah letak harapan itu tetap terbuka:

selama akidah tetap murni,
selama fondasi tetap utuh,
selama hubungan dengan Ahlulbayt as tidak retak—

maka ibadah-ibadah yang tidak sempurna itu
masih memiliki jalan untuk diterima.

Masih ada harapan:
untuk disempurnakan kekurangannya,
ditutup cacatnya,
diampuni kesalahannya,
dan disyafaati oleh Imam Zaman as.

Karena kekurangan pada ranting—
masih bisa ditambal.


Namun ketika yang rusak adalah akar—
semuanya berubah.

Ketika akidah menyimpang,
ketika fondasi retak,
ketika hubungan dengan Ahlulbayt as terputus—

maka ibadah yang tampak rapi itu
kehilangan sandarannya.

Ia mungkin indah di mata manusia,
tetapi kosong di hadapan kebenaran.


Di sinilah pertanyaan itu menjadi sangat tajam:

jika akarnya telah rusak—
kepada siapa engkau berharap untuk menambalnya?

Jika fondasinya runtuh—
siapa yang akan menyempurnakan bangunan itu?

Jika jalurnya telah ditinggalkan—
bagaimana engkau berharap sampai?


Penutup

Maka jangan terbalik.

Jangan sibuk pada yang cabang
lalu lalai pada yang pokok.

Karena yang menentukan diterima atau tidaknya perjalananmu
bukan seberapa rapi ranting yang kau susun—

tetapi apakah akarnya
masih terhubung pada tanah kebenaran…

atau diam-diam
telah tercerabut darinya secara Disadari atau tidak…