Kisah Dan Pelajaran

Al-Ayashi Sang Penulis Produktif

Di suatu sudut sejarah yang jauh—lebih dari seribu tahun yang lalu—kita menemukan sebuah pelajaran sunyi tentang kekuatan dialog, ketekunan intelektual, dan keikhlasan dalam mencari kebenaran. Di tengah gemerlap kekuasaan Abbasiyah, ketika arus besar pemikiran didominasi oleh arus resmi, ada sekelompok kecil pemuda Syiah di Baghdad. Jumlah mereka mungkin tak sampai satu persen. Kecil, nyaris tak terlihat. Tetapi sejarah sering kali tidak ditentukan oleh jumlah, melainkan oleh kualitas kesadaran.

Mereka bukan sekadar pemuda yang bersemangat. Mereka adalah pencari. Mereka belajar dengan sungguh-sungguh, berdiskusi dengan tekun, dan mengajar dengan penuh tanggung jawab. Mereka tidak memilih jalan konfrontasi yang kasar, melainkan jalan dialog yang sabar. Mereka mendekati seorang tokoh: seorang syekh, seorang penyair, seorang ulama Sunni yang aktif dan produktif, yang telah menulis banyak karya dalam bidangnya.

Dialah yang kelak dikenal sebagai Muhammad ibn Mas’ud al-Ayyashi.

Percakapan itu tidak terjadi dalam satu malam. Tidak juga dalam satu majelis. Ia berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Ini bukan sekadar perdebatan, tetapi perjumpaan dua kesungguhan: kesungguhan mencari dan kesungguhan menyampaikan. Para pemuda itu tidak membawa amarah, tetapi hujjah. Tidak membawa kebencian, tetapi kesabaran.

Dan perlahan, sesuatu terjadi.

Sang ulama yang sebelumnya berdiri di luar wilayah Ahlulbait, mulai melihat dari sudut yang berbeda. Ia tidak dipaksa. Ia tidak ditekan. Ia diyakinkan. Sampai akhirnya, ia memilih—dengan kesadarannya sendiri—untuk menjadi bagian dari barisan pecinta Ahlulbait. Ia tidak hanya berubah secara pribadi, tetapi juga menjelma menjadi salah satu ulama besar Syiah, seorang yang tsiqah, yang dipercaya.

Dari tangannya lahir ratusan karya. Lebih dari dua ratus kitab ditulisnya. Sebuah produktivitas yang lahir dari iman yang baru menemukan jalannya. Namun sejarah juga menyimpan luka. Perpustakaan-perpustakaan Syiah dibakar. Banyak karya itu hilang ditelan api. Yang tersisa hanyalah sebagian, di antaranya Tafsir al-Ayyashi—sebuah saksi bisu dari keluasan ilmunya.

Kisah ini belum selesai.

Ayahnya adalah seorang pedagang besar. Ketika wafat, ia meninggalkan harta yang luar biasa besar: tiga ratus ribu dinar emas. Jika kita bayangkan hari ini, itu bukan sekadar kekayaan—itu adalah kekuasaan. Tetapi apa yang dilakukan oleh al-Ayyashi?

Ia tidak membangun istana. Ia tidak menumpuk kemewahan. Ia menghabiskan seluruh hartanya di jalan Ahlulbait as. Seluruh hidup dan kehidupannya diabdikan demi dan untuk Imam Zamannya as.

Di sini kita belajar, bahwa perubahan keyakinan yang sejati tidak berhenti pada pikiran. Ia turun ke hati, lalu mengalir ke tindakan. Keyakinan itu menjadi komitmen. Komitmen itu menjadi pengorbanan.

Maka kisah ini, sesungguhnya, bukan hanya tentang seorang ulama yang berpindah mazhab. Ini adalah kisah tentang kekuatan pemuda yang berilmu, tentang dialog yang dilakukan dengan adab, dan tentang bagaimana kebenaran, ketika disampaikan dengan kesabaran, mampu menembus hati yang paling kukuh sekalipun.

Teks ini masih berbicara tentang sosok besar dalam tradisi tafsir Syiah, yaitu Muhammad ibn Mas’ud al-Ayyashi dan karyanya Tafsir al-Ayyashi.

Dalam khazanah intelektual Islam, ada kitab-kitab yang tidak hanya dibaca, tetapi juga “dirasakan”—seakan-akan ia berdenyut dengan napas para perawinya. Salah satunya adalah Tafsir al-Ayyashi ini.

Ia ditulis oleh seorang ulama abad ketiga Hijriah, seorang yang perjalanan intelektualnya sendiri adalah sebuah kisah hidayah. Muhammad ibn Mas’ud al-Ayyashi bukanlah sejak awal berada di barisan pecinta Ahlulbait. Ia datang dari jalan lain, lalu berbelok—bukan karena tekanan, tetapi karena pencarian.

Dan ketika ia sampai, ia tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa seluruh dirinya.

Tafsir yang ia susun bukan tafsir biasa. Ia adalah kumpulan riwayat—suara-suara yang dinisbahkan kepada Ahlulbait. Suara yang lembut, tetapi tegas. Yang sederhana, tetapi dalam. Yang, bagi para pecintanya, bukan sekadar penjelasan ayat, tetapi pembukaan makna.

Namun sejarah, seperti sering terjadi, tidak selalu ramah kepada warisan ilmu.

Tafsir ini tidak sampai kepada kita secara utuh. Yang ada di tangan kita hari ini—kata para peneliti—hanya sekitar separuhnya. Ia berhenti di sekitar Surah al-Kahfi. Selebihnya, dari sana hingga akhir Al-Qur’an, hilang dalam lorong waktu. Entah terbakar, entah tercecer, entah terkubur bersama tragedi-tragedi yang menimpa perpustakaan umat.

Di sini, kita dihadapkan pada ironi: sebuah karya besar yang justru dikenal melalui ketidaksempurnaannya.

Lebih dari itu, ada persoalan lain yang sering diajukan oleh para pengkritik. Naskah yang sampai kepada kita telah kehilangan sanad-sanadnya. Rantai periwayatan yang dalam tradisi hadis adalah jaminan keotentikan, tidak lagi utuh. Maka sebagian orang pun tergesa-gesa menjatuhkan vonis: tafsir ini gugur , tidak lagi dapat dijadikan sandaran.

Tetapi, benarkah kebenaran hanya bergantung pada apa yang tersisa di pinggir teks?

Seorang penelaah yang jujur—yang tidak datang dengan prasangka, tetapi dengan kesiapan untuk mendengar—akan menemukan sesuatu yang berbeda. Ia akan merasakan bahwa teks ini memiliki “nada”. Sebuah nada yang khas. Seolah-olah ada kesinambungan ruh dengan riwayat-riwayat lain dari Ahlulbait.

Di titik ini, tafsir itu tidak lagi hanya dibaca dengan mata, tetapi juga dengan kepekaan batin.

Apalagi jika kita bandingkan dengan karya lain seperti Tafsir al-Qummi karya Ali ibn Ibrahim al-Qummi, kita menemukan pola yang serupa: penafsiran Al-Qur’an melalui lisan para Imam. Seakan-akan Al-Qur’an tidak cukup dijelaskan hanya dengan bahasa, tetapi membutuhkan hati yang diwarisi.

Di sinilah letak inti perdebatan: apakah Al-Qur’an dapat ditafsirkan sepenuhnya tanpa merujuk pada mereka yang, dalam keyakinan tertentu, adalah penjaga makna terdalamnya?

Kisah al-Ayyashi sendiri memperkuat pertanyaan itu.

Ketika ia menemukan apa yang diyakininya sebagai kebenaran, ia tidak menahannya sebagai pengetahuan pribadi. Ia mengubahnya menjadi gerakan. Ia menginfakkan seluruh hartanya—warisan besar dari ayahnya—untuk menyebarkan hadis-hadis Ahlulbait. Ia menulis, mengumpulkan, mengajar.

Seolah-olah ia ingin mengatakan: kebenaran yang tidak diperjuangkan hanyalah pengetahuan yang belum matang.

Dan mungkin, yang paling menarik, adalah bagaimana karya-karya seperti Tafsir al-Ayyashi justru sering menjadi sasaran pelemahan. Kritik diarahkan kepadanya, bukan hanya karena aspek teknis seperti sanad yang hilang, tetapi juga karena substansi yang dibawanya.

Di titik ini, kita belajar satu hal: bahwa sejarah ilmu bukan hanya tentang penulisan dan periwayatan, tetapi juga tentang penerimaan dan penolakan.

Dan di antara keduanya, selalu ada ruang bagi kita—untuk membaca, menimbang, dan, jika berani, merasakan.

Pujian Allamah Thabathabai Dalam Mukaddimah Tafsir Al-Ayashi

Dalam akidah Ahlulbait, tidak ada ruang abu-abu dalam tafsir. Tidak ada “zona bebas” bagi akal untuk membangun makna Al-Qur’an dari dirinya sendiri. Tafsir adalah wilayah otoritas—dan otoritas itu sudah ditetapkan: melalui mereka. Melalui lisan para Imam as. Melalui riwayat.

Di sini, kitab seperti Tafsir al-Ayyashi bukan sekadar referensi—ia adalah garis batas. Ia adalah pernyataan bahwa makna Al-Qur’an tidak boleh diambil kecuali dari sumbernya yang sah. Ahlbayt as.

Lalu kita melihat Muhammad Husayn al-Tabataba’i berdiri, dan dengan penuh kekuatan bahasa ia , Ketika menulis bagi mukaddimah kitab Tafsir Ayashi, memuji kitab itu. Ia mengangkatnya tinggi. Ia memberinya legitimasi sejarah. Ia seolah berkata: inilah warisan paling otentik, inilah tafsir yang diwariskan dari sumber Cahaya suci Ahlbayt as.

Tetapi setelah itu, ia berbalik.

Ia menulis Tafsir al-Mizan dengan fondasi yang tidak tunduk sepenuhnya pada riwayat. Ia membuka pintu bagi akal untuk menyusun makna. Ia memberi ruang bagi metode yang berdiri di luar orbit eksklusif riwayat Ahlulbait.
Di sini persoalannya bukan lagi “variasi metode”.
Ini adalah kontradiksi ideologis.

Jika engkau meyakini bahwa tafsir adalah hak otoritatif Ahlulbait—maka setiap langkah keluar dari riwayat adalah pelanggaran terhadap prinsip itu.
Dan jika engkau tetap melangkah keluar, maka pujianmu kepada tafsir riwayat menjadi kosong dari komitmen.

Apa arti memuji setinggi langit, jika pada saat yang sama engkau tidak menjadikannya sebagai jalan yang mengikat dirimu?

Apa arti mengatakan “ini paling terpercaya”…
lalu memilih untuk tidak menjadikannya sebagai fondasi utama?

Di sini, pujian itu berubah wajah.
Ia tidak lagi tampak sebagai komitmen—tetapi sebagai penghormatan simbolik. Sebuah pengakuan di permukaan… yang tidak turun ke kedalaman ideologi.

Dan bagi mereka yang memahami tafsir sebagai otoritas suci Ilahi, ini bukan hal kecil.

Ini adalah sikap mendua : Satu kaki berdiri di wilayah Riwayat, mengakui otoritasnya.
Satu kaki lagi melangkah ke wilayah konstruksi akal, memberi ruang bagi selainnya.
Dan dua kaki itu tidak sedang berjalan dalam satu arah.

Muhammad Husayn al-Tabataba’i memuji tafsir riwayat sebagai jalan kebenaran,
tetapi tidak menjadikannya sebagai satu-satunya jalan dalam praktiknya.
Dan dalam logika ideologis yang ketat, itu bukan sekadar inkonsistensi.

Itu adalah retakan.