Ali ibn Abi Talib as bersabda :
أصدقاؤك ثلاثة، وأعداؤك ثلاثة…
Ucapan ini pendek. Tetapi di dalamnya tersembunyi ilmu tentang masyarakat, loyalitas, perang kesadaran, bahkan nasib ruh manusia.
Imam tidak sedang mengajar kita cara berteman. Beliau sedang mengajar cara membaca posisi manusia dalam pertarungan haq dan batil.
Karena manusia tidak hidup sendirian. Setiap manusia terhubung dengan jaringan pengaruh. Dan sering kali seseorang tidak dihancurkan langsung oleh musuhnya… tetapi oleh hubungan-hubungan yang ia anggap sepele.
Mari kita bedah satu per satu.
- “صديقك”
- “Temanmu adalah temanmu.” ( yang langsung ).
Ini tampak paling sederhana. Tetapi justru di sinilah fondasi semuanya.
Karena teman terdekatmu adalah lingkungan yang paling sering menyentuh jiwamu.
Manusia menyerap ruh lingkungan sebagaimana spons menyerap air.
Jika temanmu mencintai Allah… perlahan kau akan malu bermaksiat.
Jika temanmu mencintai dunia… perlahan akhirat akan terasa asing.
Jika temanmu hidup menunggu Muhammad al-Mahdi… maka pembicaraan tentang Imam akan terasa hidup.
Tetapi jika temanmu hidup untuk dunia… maka bahkan agama pun akhirnya hanya jadi aksesoris sosial.
Karena itu teman bukan sekadar manusia yang duduk bersamamu.
Ia adalah arsitek diam-diam bagi jiwamu.
- “صديق صديقك” “Sahabat dari sahabatmu.”
Ini lebih berbahaya. Karena pengaruh tingkat kedua sering kali lebih tersembunyi.
Hari ini manusia mungkin tidak langsung mengambil pemikiran dari musuh. Tetapi ia mengambilnya dari orang yang ia percaya.
Temanmu mengagumi seseorang. Lalu kau ikut mendengar orang itu. Lalu kau mulai menghormatinya. Lalu pikirannya masuk ke kepalamu.
Dan akhirnya… kau berubah tanpa sadar.
Beginilah peradaban bekerja.
Mereka tidak selalu menyerangmu langsung. Mereka cukup memengaruhi lingkaranmu.
Hari ini banyak orang tidak membaca filsafat sekular secara langsung. Tetapi mereka mengikuti tokoh yang sudah dijajah oleh filsafat itu. Akhirnya cara pandang mereka ikut berubah.
Inilah “صديق صديقك”.
Karena itu Imam as sedang mengajarkan: jangan hanya lihat siapa temanmu. Lihat juga siapa yang memengaruhi temanmu.
Sebab racun sering datang melalui tangan yang kau percaya.
- “عدو عدوك” “Musuh dari musuhmu adalah temanmu.”
Ini bukan sekadar strategi politik.
Ini hukum keberpihakan.
Seseorang yang benar-benar membenci kebatilan… secara fitrah akan lebih dekat kepada cahaya.
Karena itu dalam sejarah para nabi, sering kali ada orang yang awalnya jauh dari agama… tetapi karena ia membenci kezaliman… akhirnya ia bergerak menuju kebenaran.
Mengapa?
Karena ia memiliki musuh yang sama.
Hari ini siapa pun yang memusuhi thaghut, memusuhi sistem penindasan, memusuhi penghinaan terhadap manusia, secara fitrah lebih dekat kepada jalan para Imam dibanding mereka yang nyaman hidup di bawah meja para penzalim.
Karena Imam Zaman alaihisalam bukan hanya simbol ibadah.
Beliau adalah musuh seluruh sistem kebatilan.
Maka siapa yang memusuhi kebatilan… ia sedang membuka jalan menuju Imam meski belum menyadarinya.
- “عدوك”
“Musuhmu adalah musuhmu.”
Ini jelas. Tetapi sering kali manusia justru gagal mengenali musuh sejatinya.
Ia mengira musuh hanyalah orang yang menyerangnya secara fisik.
Padahal kadang musuh terbesar adalah: pemikiran yang merusak akidahmu, media yang merusak jiwamu, lingkungan yang mematikan nuranimu, atau tokoh yang perlahan membuatmu tidak lagi membutuhkan Imam.
Musuh tidak selalu datang membawa pedang.
Kadang ia datang membawa hiburan. Membawa ideologi. Membawa slogan kebebasan. Membawa spiritualitas palsu. Membawa agama tanpa wilayah.
Dan yang paling berbahaya: musuh yang membuatmu merasa aman saat sedang dijauhkan dari Allah.
- “عدو صديقك” “Musuh dari sahabatmu adalah musuhmu.”
Mengapa?
Karena menyerang orang-orang yang berjalan menuju Allah… berarti menyerang jalanmu sendiri.
Jika seseorang membenci orang-orang saleh, membenci pecinta Ahlulbayt, membenci jalan Imam… maka cepat atau lambat kebencian itu akan sampai kepadamu juga.
Hari ini ada manusia yang berkata: “Aku cinta Imam Zaman.”
Tetapi ia duduk bersama orang-orang yang menghina para pecinta Imam. Ia tertawa bersama mereka. Ia diam ketika wilayah direndahkan.
Padahal diam terhadap penghinaan kepada jalan Allah… perlahan akan membunuh loyalitas dalam hati.
Karena hati manusia dibentuk oleh keberpihakannya.
- “صديق عدوك” “Sahabat musuhmu adalah musuhmu.”
Inilah bagian paling tajam.
Karena tidak semua musuh menyerang langsung.
Sebagian masuk melalui persahabatan.
Orang yang bersahabat dengan musuhmu… akan membawa nilai musuhmu, cara pandang musuhmu, kepentingan musuhmu.
Dan perlahan ia akan menormalisasi kebatilan di hadapanmu.
Hari ini musuh terbesar Imam Zaman bukan hanya tentara.
Tetapi seluruh sistem yang membuat manusia merasa tidak lagi membutuhkan Imam.
Maka siapa pun yang menjadi sahabat sistem itu… meski lisannya religius… hakikatnya sedang membawa manusia menjauh dari hujjah Allah.
Inilah sebabnya Ahlulbayt mengajarkan:
فمعكم معكم لا مع غيركم
“Bersama kalian… bukan bersama selain kalian.”
Karena pada akhirnya hidup manusia hanya tentang satu hal:
kepada siapa ia memberikan loyalitas batinnya.
Dan manusia akan dibangkitkan bersama siapa yang paling ia cintai, siapa yang paling ia bela, dan siapa yang paling membentuk kesadarannya.
