Bacalah surat al-Ma’un baca pula terjemahannya kemudian baca tulisan di bawah ini. Setelah memahami apa yang dikatakan oleh Imam Shadiq as lalu ulangi baca lagi surat al-Ma’un Dan terjemahannya. Rasakan betapa jauh apa yg ditafsirkan Non-Makshum Dan Apa yang ditakwilkan Imam Makshum as .


Kebenaran yang Tersembunyi dalam Surah Al-Ma’un


Ketika “Agama” Berubah Menjadi Seorang Manusia!

Apakah Anda merasa tenang dengan salat Anda? Apakah Anda mengira bahwa ketika berdiri di mihrab, menyempurnakan rukuk dan sujud, Anda telah menunaikan hak Sang Yang Disembah? Pernahkah Anda berpikir bahwa agama bukan sekadar kitab yang dibaca, atau ritual yang dijalankan, melainkan sebuah “hakikat hidup” yang berdenyut di alam malakut yang gaib?

Bagaimana jika saya memberi tahu Anda bahwa semua konsep yang Anda baca dalam Surah Al-Ma’un (anak yatim, orang miskin, salat, dan al-ma’un) memiliki versi malakut yang sama sekali berbeda; bukan berbicara tentang masyarakat dan individu, melainkan tentang “rahasia Ilahi yang paling agung”?

Berhentilah sejenak dan lepaskan sandal ketenangan palsu Anda, agar Anda terguncang oleh sebuah riwayat yang mengejutkan dan sangat mendalam, yang dengannya Imam Ja’far ash-Shadiq (as) mengguncang kesadaran Jabir al-Ju’fi, serta menyingkap tabir dari ibadah-ibadah kosong yang dijalankan jutaan orang sementara mereka mengira telah berbuat baik.

Dalam teks suci yang mendalam ini, Imam mengangkat tingkat takwil untuk mengguncang orang-orang lalai yang hanya terpaku pada penampilan lahiriah.

Beliau mengungkap bahwa Surah Al-Ma’un memindahkan kita dari dunia fenomena sosial, hukum-hukum syariat, dan ritual-ritual kering menuju batin alam gaib.

Untuk mengungkap operasi penyingkiran dan pendustaan terbesar terhadap wali Allah yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku berafiliasi dengan namanya.

Ash-Shadiq berkata dengan sangat jelas: “Agama adalah seorang lelaki dari kami, dan dialah yang didustakan!”

Maka agama bukanlah sekadar kitab yang menghiasi rak-rak buku, dan bukan pula kumpulan hukum yang kering yang ditegakkan pada musim-musim tertentu.

Agama adalah makhluk hidup, hakikat eksistensial, dan tubuh kebenaran yang berbicara yang menjelma dalam diri “wali Allah dan hujah-Nya”.

Imam adalah mata agama, citra hidupnya, dan wajah Allah yang darinya jalan menuju-Nya ditempuh.

Kelalaian Syiah yang mematikan dimulai ketika seseorang mengira dirinya telah berwilayah hanya karena menghafal lahiriah syariat para Imam, padahal di batinnya ia mendustakan agama, karena hidup terpisah dari kehadiran hidup Imamnya.

Pendustaan terhadap agama dalam batin bukan sekadar mengingkari kebangkitan dan hari kiamat, melainkan mengingkari wilayah ini dan memerangi cahaya eksistensial ini yang menjadi penopang segala sesuatu. Tanpa hakikat ini, semua ibadah menjadi gerakan tanpa ruh dan tanpa arah.

Dari sudut pandang ini, Imam menyembelih kesombongan para pencari kehormatan agama dan orang-orang yang terhijab oleh lahiriah, ketika beliau mendefinisikan kembali “anak yatim” dan “orang miskin” dengan makna yang tidak biasa bagi pikiran yang tumpul.

Beliau mengungkap maqam Imam yang hadir namun tersembunyi, serta maqam-maqam gaib yang mengelilinginya hingga membuat akal tercengang.

“Anak yatim adalah walinya yang tersembunyi.”

“Dan orang miskin adalah pintunya yang tertutup.”

Anak yatim dalam bahasa berarti “yang sendirian”.

Dalam takwil Ja’fari, ia adalah wali yang maksum.

Yang sendirian pada zamannya, tidak ada yang menyerupainya.

Yang tertutup oleh hijab gaib dan ketersembunyian di antara para hamba, sebagaimana hamba saleh bersama Musa.

Yang terputus urusan dan kemunculannya dari pandangan orang-orang jahil, sehingga mereka tidak mengenal kedudukannya dan tidak menemukannya di antara wajah-wajah yang lalu-lalang.

Adapun orang miskin di sini bukanlah orang yang miskin secara materi, melainkan pemilik maqam “kemiskinan eksistensial dan kefakiran mutlak kepada Allah”.

Ia adalah pintu Imam dan hujahnya yang tersembunyi dari pandangan manusia.

Pintu yang memikul rahasia-rahasia maksum dan menjadi perantara antara Yang Haq dan makhluk.

Namun ia terhijab oleh tabir Allah sehingga tidak dapat dilihat dan dicapai kecuali oleh orang yang jernih mata batinnya dan terbebas dari tujuan-tujuan duniawi serta penampilan lahiriah.

Musibah terbesar di sini, dan seruan yang membangunkan dari kelalaian, tampak dalam ucapan beliau:

“Maka celakalah orang-orang yang salat, yang salat tanpa kami dan lalai dari wali kami!”

Ayat ini menakutkan. Bagaimana mungkin orang yang salat mendapat kecelakaan?

Ketika salatnya hanya gerakan anggota tubuh yang kosong, sementara hatinya lalai dari “Imam zamannya”, kiblat ruh para pecinta Ahlulbait, dan magnet penerimaan yang dengannya amal-amal diterima.

Ini adalah salat anggota tubuh yang kosong menuju kiblat yang mati.

Salat yang tidak mengangkat seorang hamba walau satu suara dan tidak mendekatkannya walau sejengkal.

Bahkan menambah tebal hijabnya karena salat itu berdiri di atas riya diri dan penampilan lahiriah.

Rukuk dan sujud untuk ego dan riya sosial.

Sementara para pelakunya “berbuat riya dan menghalangi al-ma’un”, yakni mereka menampakkan agama.

Dan mereka menghalangi manusia serta mencegah mereka mengambil dan meminum dari al-ma’un ilmu dan limpahan yang telah diwasiatkan Allah dan Rasul-Nya.

Mereka menghalangi manusia mengambil ilmu dari maksum dan pintunya yang tersembunyi, lalu membuat mereka puas dengan kulit luarnya saja.

Ketika dahaga para penempuh jalan rohani berteriak dalam diri Anda, dan Anda bertanya dengan kerinduan seperti Jabir al-Ju’fi:

“Wahai Tuanku, bagaimana aku menemukannya?”

Bagaimana aku sampai kepada wali yang tersembunyi dan pintunya yang tertutup?

Maka datanglah jawaban yang menampar kelalaian Anda dan membalikkan cara pencarian manusia:

“Wahai Jabir… dialah yang akan menemukanmu jika engkau menyempurnakan salatmu dan membuka pintumu!”

Di sini Imam menampar rasa ingin tahu lahiriah kita.

Beliau menuntut agar kita berhenti berlari ke luar dan berhenti bermain-main mencari rahasia dengan mengintip wajah-wajah manusia, perdebatan kata-kata, dan konflik dunia.

Karena rahasia Ilahi tidak diperoleh dengan rasa ingin tahu.

Allah telah menyembunyikannya di antara para hamba-Nya, dan Anda tidak akan mencapainya dengan pencarian inderawi.

Sebaliknya, hakikat itu “bergerak sendiri” menuju hati-hati yang tulus.

Ia bergerak menuju Anda dan menemukan Anda jika wadah batin Anda telah siap.

“Jika engkau menyempurnakan salatmu”, artinya jika Anda mencapai mi’raj yang sesungguhnya dan membawa salat Anda ke tingkat penyaksian serta hubungan hati yang tulus dan sempurna dengan Allah melalui wilayah wali-Nya, sambil melepaskan egoisme yang kasar.

“Dan membuka pintumu”, artinya membersihkan batin dari hijab keakuan dan riya agama yang menipu, serta membuka pintu ruh Anda bagi hembusan karunia Ilahi dan limpahan malakuti.

Hasilnya?

Cahaya tidak membutuhkan Anda mencarinya dengan pelita Anda yang lemah agar ia melihat Anda.

Cahayalah yang akan menerobos kegelapan Anda dan merobek kelalaian Anda.

Wali yang tersembunyi, atau bantuan ruhani yang terkait dengannya, akan membimbing dirinya kepada Anda, menemukan Anda, dan menuangkan ke dalam jiwa Anda ketenangan, keyakinan, dan ilmu laduni yang tersembunyi.

Bangunlah dari tidur ritual-ritual kering dan lari ke luar diri.

Anda tidak perlu menempuh padang-padang luas atau jarak yang jauh untuk sampai kepada hujah dan pintu-pintunya yang tersembunyi.

Anda hanya perlu “menempuh jarak antara dirimu dan hatimu.”

Membersihkan batin Anda.

Menyempurnakan salat Anda.

Membuka pintu hati yang tertutup oleh hijab dunia dan berbagai kesibukan.

Dan membiarkan alam gaib mengambil alih untuk menemukan Anda.

Karena wali yang tersembunyi mengetahui alamat batin Anda yang tersembunyi, dan pasti akan mengunjungi Anda jika Anda termasuk orang-orang yang tulus.