Dari Abdullah bin Miskan, ia berkata:
“Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far ash-Shadiq a.s.) bersabda:
‘Hati-hatilah kalian terhadap para pemimpin yang mencari kepemimpinan dan menempatkan diri sebagai pemuka.
Demi Allah, tidaklah sandal-sandal berderap mengikuti seseorang (yakni orang yang diikuti dan diagungkan manusia), melainkan ia akan binasa dan membinasakan orang lain pula.'”
Dari Abu Hamzah ats-Tsumali, ia berkata:
“Abu Abdillah (Imam Ja’far ash-Shadiq a.s.) berkata kepadaku:
‘Hati-hatilah engkau terhadap kepemimpinan (riyasah), dan hati-hatilah engkau dari mengikuti jejak langkah manusia.’
Aku berkata:
‘Semoga aku menjadi tebusanmu. Tentang kepemimpinan, aku memahaminya. Tetapi mengenai mengikuti jejak langkah manusia, bukankah sebagian besar ilmu yang aku miliki diperoleh dari mengikuti para ulama dan guru?’
Beliau menjawab:
‘Bukan seperti yang engkau pahami.
Yang aku maksud adalah: janganlah engkau mengangkat seseorang sebagai pemimpin yang ditaati selain Hujjah (Imam yang ditetapkan Allah), lalu engkau membenarkannya dalam setiap apa yang ia katakan.'”
Makna inti riwayat ini:
Ahlulbait a.s. tidak melarang belajar dari ulama, guru, atau orang saleh. Yang diperingatkan adalah:
Ambisi mencari kedudukan dan kultus kepemimpinan.
Mengikuti seseorang secara membuta.
Menjadikan tokoh tertentu sebagai ukuran mutlak kebenaran selain Hujjah Allah.
Membenarkan semua ucapan seorang pemimpin tanpa menimbangnya dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan petunjuk Imam yang ma’shum.
Dalam pandangan Imam ash-Shadiq a.s., seorang mukmin harus mencintai dan menghormati orang-orang saleh, tetapi tidak boleh kehilangan sikap kritis hingga menganggap seseorang selalu benar dalam segala hal.
🌹🌹🌹
