Al-Ghadir ( 9 )

Dan ada ayat yang lebih jelas dan lebih tegas daripada makna ini, yaitu ayat ke-51 Surah Ghafir.

Apa yang dikatakan ayat ini?

“Sesungguhnya Kami pasti akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman.”

Kapan?

“Di kehidupan dunia dan pada hari berdirinya para saksi.”

Dan inilah makna sabda Nabi ﷺ:

“Dan tolonglah orang yang menolongnya.”

“Sesungguhnya Kami pasti akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman.”

Kapan?

“Di kehidupan dunia.”

Apakah pertolongan ini telah terwujud bagi Ali bin Abi Thalib dan para pendukung Ali?

Pertolongan itu belum terwujud.

Pertolongan itu akan terwujud pada masa raj’ah.

Kalau demikian, betapa pentingnya akidah ini?

Jika seluruh poros program ini, seluruh poros proyek Muhammadi ini, tidak akan terwujud kecuali pada masa raj’ah, sementara proyek ini belum terwujud dalam kehidupan kita, maka seberapa pentingkah raj’ah dalam kehidupan dan akidah kita?

Jika proyek Muhammadi ini tidak terwujud kecuali pada tahap tersebut, lalu di manakah posisi kita terhadap akidah raj’ah?

Saya bertanya: di manakah posisi kita terhadap akidah raj’ah?

Saya tidak berbicara tentang keyakinan mental atau kajian ilmiah semata.

Saya berbicara tentang sisi praktis.

Bahkan ketika kita membaca doa-doa Ahlulbait, misalnya doa yang dianjurkan dibaca pada hari ketiga bulan Sya’ban, yaitu hari kelahiran Sayyidusy Syuhada.

Doa tersebut terdapat dalam Mafatih al-Jinan dan kitab-kitab doa lainnya.

Doa yang diriwayatkan dari Hasan al-Askari عليه السلام, yang diriwayatkan oleh Muhammad ibn al-Hasan al-Tusi dalam Misbah al-Mutahajjid.

Apa yang disebutkan dalam doa itu?

Ketika menyebut sifat-sifat Sayyidusy Syuhada:

“Syahid yang mengalirkan air mata, pemimpin keluarga, yang akan diberi pertolongan pada hari al-Karrah (kembalinya mereka).”

Artinya, pertolongan yang nyata dan fisik bagi Husain bin Ali adalah pada hari al-Karrah.

Adapun yang biasa kita katakan tentang kemenangan Husain, tentang kemenangan darah atas pedang, dan tentang kemenangan kezaliman yang menimpa Husain, maka itu adalah makna kiasan dari pertolongan kepada Husain.

Sedangkan doa itu mengatakan:

“Yang akan diberi pertolongan pada hari al-Karrah.”

Dan ini adalah doa Imam Hasan al-Askari عليه السلام.

Makna ini juga ditegaskan dalam ziarah-ziarah Ahlulbait.

Dalam Ziarah Jami’ah misalnya, berulang kali disebut:

“Aku beriman kepada kembalinya kalian dan raj’ah kalian.”

Ungkapan seperti ini selalu muncul dalam ziarah:

“Aku beriman kepada zahir kalian, batin kalian, kembalinya kalian dan raj’ah kalian.”

Perhatikan apa yang dilakukan oleh ziarah-zirah tersebut.

Ziarah menjadikan iman kepada raj’ah setara dengan iman kepada zahir dan batin para Imam.

Lalu apakah akidah kita terhadap para Imam?

Ringkasan akidah kita terhadap para Imam adalah beriman kepada zahir dan batin mereka, kepada rahasia dan keterbukaan mereka.

Dengan susunan yang sama, ziarah itu mengatakan:

“Aku beriman kepada zahir kalian dan batin kalian, kepada rahasia kalian dan keterbukaan kalian, kepada kembalinya kalian dan raj’ah kalian.”

Apakah akidah raj’ah memiliki tingkat kepentingan sebesar ini?

Demi Allah, setidaknya di lingkungan kita sendiri, apakah ia memiliki kedudukan seperti ini?

Di sinilah proyek Iblisi bergerak.

Proyek Iblisi tidak mampu membuat kita ragu terhadap Baiat Ghadir.

Ia tidak mampu membuat kita ragu terhadap makna bahwa Ali bin Abi Thalib adalah maula dan wali bagi setiap mukmin laki-laki dan perempuan.

Ia juga tidak mampu membuat kita ragu tentang makna maula dan wali, tentang penolong dan orang yang dicintai.

Perdebatan-perdebatan yang membuat pihak yang berseberangan dengan Ahlulbait tersesat dalam persoalan ini, di manakah letak perannya?

Di manakah letak pengaruhnya?

Letak pengaruhnya adalah pada persoalan yang penting dan yang lebih penting.

Di situlah fitnah terjadi.

Dan di situlah kebingungan antara yang penting dan yang lebih penting muncul.

Ungkapan yang selalu kita ulangi dalam Ghadir Khum:

“Dan tolonglah orang yang menolongnya.”

Di manakah pertolongan itu?

Pertolongan yang hakiki berada pada masa raj’ah dan kemunculan Imam عليه السلام.

Adapun yang terjadi sekarang hanyalah pendahuluan menuju raj’ah tersebut.

Doa Al-‘Ahd yang kita baca, yang diriwayatkan dari Ja’far al-Sadiq عليه السلام, dan dianjurkan dibaca selama empat puluh pagi berturut-turut—empat puluh pagi berturut-turut, artinya jika terputus maka pembacanya harus memulai lagi dari awal selama empat puluh hari yang baru—

Di dalamnya disebutkan:

“Ya Allah, jika kematian yang telah Engkau tetapkan sebagai ketentuan yang pasti bagi hamba-hamba-Mu menghalangi aku darinya, maka keluarkanlah aku dari kuburku dengan mengenakan kain kafanku, menghunus pedangku, mengangkat tombakku, memenuhi seruan sang penyeru di kota maupun di padang.”

Sampai akhir doa yang mulia itu.

Ungkapan-ungkapan ini berbicara tentang sebuah akidah yang hidup.

Tentang sesuatu yang praktis, bukan sesuatu yang khayalan.

Hendaklah setiap orang dari kalian mengambil doa itu dan merenungkan ungkapan-ungkapan tersebut.

Ungkapan-ungkapan itu berbicara tentang sesuatu yang nyata dan sesuatu yang dapat dirasakan.

“Ya Allah, jika kematian yang telah Engkau tetapkan sebagai ketentuan yang pasti bagi hamba-hamba-Mu menghalangi aku darinya…”

Kematian di sini hanyalah satu tahap.

“Maka keluarkanlah aku dari kuburku dengan mengenakan kain kafanku, menghunus pedangku, mengangkat tombakku, memenuhi seruan sang penyeru di kota maupun di padang.”

Menjauh dari hadis-hadis Ahlulbait, menjauh dari riwayat-riwayat Ahlulbait عليهم السلام, menjauh dari doa-doa mereka, menjauh dari ziarah-ziarah mereka, dan menjauh dari kata-kata mereka, itulah yang membuat kita berada dalam keadaan kebingungan antara yang penting dan yang lebih penting.

Al-Ghadir pada hakikat dan kandungannya, sebagaimana saya katakan pada awal pembicaraan, adalah proyek Muhammadi dalam membangun manusia, baik pada tingkat individu maupun pada tingkat umat.

Dan proyek ini tidak mungkin terwujud tanpa kita memahami rincian-rincian proyek tersebut.