Al-Ghadir ( 6 ) .**

Cakrawala kedua, ungkapan-ungkapan ini menunjukkan hukum taufik dan khidzlan (pertolongan dan penelantaran), yaitu hukum yang mengatur hubungan antara orang-orang beriman dan selain mereka dengan Imam Maksum.

Imam Maksum adalah poros segala sesuatu. Dari dirinya segala urusan bermula, dan kepadanya segala urusan berakhir.

“Dan kembalinya makhluk kepada kalian, dan perhitungan mereka berada di atas kalian.”

Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan Hari Kiamat. Pada seluruh tingkatan kehidupan dan seluruh tingkatan keberadaan, kembalinya makhluk adalah kepada mereka.

Keberadaan setiap makhluk berasal melalui tangan mereka; melalui tangan Imam Maksum عليه الصلاة والسلام.

Kembalinya segala urusan adalah kepadanya.

Hukum taufik dan khidzlan inilah yang menentukan hubungan antara orang beriman maupun yang tidak beriman dengan Imam Maksum عليه الصلاة والسلام.

Dan Nabi di sini berbicara tentang sisi taufik:

“Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya.”

Dan tentang sisi khidzlan:

“Musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang meninggalkannya.”

Pembahasan-pembahasan ini memerlukan penjelasan yang lebih luas, namun kesempatan tidak memungkinkan untuk itu.

Karena itu saya beralih kepada pokok pembahasan.

Cakrawala ketiga dari makna-makna ungkapan ini:

“Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang meninggalkannya.”

Merupakan penetapan yang jelas bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama para wali-Nya, bersama para pecinta dan pendukung Ali.

Dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah penolong bagi para pecinta dan pendukung Ali.

Dan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki perkara ini pada tingkatan yang paling tinggi dari apa yang Dia kehendaki, yaitu sebagai kewajiban syariat.

Sedangkan pada sisi yang lain terdapat keharaman.

Ungkapan-ungkapan ini datang dalam posisi penetapan hukum.

Semua makna ini benar.

Mungkin Syiah Ahlulbait memperhatikan makna-makna ini dan berinteraksi dengannya.

Makna-makna tersebut adalah makna yang penting.

Akan tetapi, makna yang lebih penting tidak diperhatikan.

Makna yang lebih penting adalah makna yang ditunjukkan oleh zahir lafaz-lafaz itu sendiri, sebelum kita beralih kepada penakwilan dan memberikan makna-makna lain yang jauh dari zahir lafaz.

Ketika kita mengatakan:

“Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang meninggalkannya,”

maka ini adalah doa dari Nabi Muhammad ﷺ.

Dan doa Nabi pasti dikabulkan.

Dan pasti dikabulkan dalam bentuk yang paling sempurna.

Ini adalah doa Nabi.

Doa Nabi untuk siapa?

Untuk Ali bin Abi Thalib dan para pendukung Ali.

Pada suatu masa yang sangat khusus, pada bagian terpenting dari kehidupan Nabi, yaitu bagian ketika agama telah sempurna dan Islam telah diridai sebagai agama.

Ini adalah doa yang pasti dikabulkan.

Maka, apakah doa Nabi telah dikabulkan?

Doa Nabi belum dikabulkan, karena yang dimaksud dengan pertolongan (nashr) secara jelas adalah pertolongan di alam dunia yang bersifat lahiriah dan fisik.

Dan hal itu tidak akan terwujud kecuali pada masa raj’ah (kembalinya) Nabi dan para Imam.

Ketika Nabi ﷺ bersabda:

“Dan tolonglah orang yang menolongnya,”

sejak beliau mengucapkan kalimat itu hingga hari ini, apakah telah terwujud kemenangan yang hakiki bagi Ali bin Abi Thalib عليه الصلاة والسلام?

Dan kemenangan yang hakiki bagi para pendukungnya?

Hingga saat ini, hari demi hari, kita menyaksikan bahwa kezaliman yang menimpa Pemimpin para Wasi semakin bertambah dari hari ke hari.

Kemenangan ini tidak akan terwujud kecuali pada masa raj’ah Nabi dan para Imam as.