Al-Ghadir ( 4 ) Bagaimana proyek Iblisi berhadapan dengan proyek Muhammadi?
Telah dijelaskan pada awal pembicaraan bahwa Al-Ghadir adalah proyek Muhammadi, sedangkan As-Saqifah adalah proyek Iblisi.
Bagaimana proyek Iblisi berhadapan dengan proyek Muhammadi?
Proyek ini bergerak dalam dua arah: arah yang berlawanan dan arah yang sejalan.
Ketika kita menelaah lingkungan yang berseberangan dengan Ahlulbait untuk mengamati gerak proyek Iblisi dalam peperangannya terhadap Al-Ghadir, apa yang dilakukannya?
Seandainya memungkinkan baginya untuk membuat umat melupakan Al-Ghadir sepenuhnya, niscaya ia akan melakukannya. Namun persoalan ini sulit untuk dilupakan.
Hal itu wajar, karena Al-Ghadir adalah akad, perjanjian, baiat, dan pengakuan.
Bagaimana perjanjian-perjanjian dihancurkan?
Dengan melupakannya.
Jika engkau ingin menghapus suatu akad atau perjanjian, bagaimana caranya? Engkau menghapuskannya dengan membuatnya dilupakan.
Karena itu, seluruh upaya proyek Iblisi adalah membuat umat melupakan perjanjian ini.
Seandainya ia mampu membuat seluruh umat melupakannya, tentu ia akan melakukannya. Namun persoalan ini sulit untuk dilupakan, sebab Nabi ﷺ sejak hari-hari pertama risalah telah menegaskan makna baiat ini.
Bahkan jika kita ingin melihat Baiat Ghadir dalam konteks sejarahnya, maka baiat itu terjadi dalam kondisi dan suasana yang dibentuk oleh Nabi ﷺ sedemikian rupa sehingga tidak mungkin dilupakan.
Di sini saya tidak ingin menyinggung apa yang terdapat dalam kitab-kitab pihak yang berbeda dengan Ahlulbait mengenai persoalan ini. Saya hanya ingin menjelaskan gerakan proyek Iblisi dalam menghadapi Al-Ghadir.
Proyek Iblisi berusaha membuat umat melupakan. Namun perkara ini, sebagaimana telah saya katakan, sulit diwujudkannya.
Karena itu, ia memulai dengan langkah pertama, yaitu berpura-pura lupa.
Ketika kita mempelajari keadaan umat setelah Nabi ﷺ, mempelajari para sahabat dan tokoh-tokoh umat, serta menelaah sikap orang-orang yang dahulu bersama Nabi, kita dapati mereka berada pada posisi berpura-pura melupakan. Mereka berpura-pura melupakan Baiat Ghadir.
Mereka tidak mampu melupakannya. Hanya beberapa hari saja jarak antara baiat tersebut dan wafat Nabi yang Agung. Tidak mungkin itu dilupakan.
Kalau begitu, apa solusinya?
Berpura-pura lupa.
Kemudian apa yang dilakukan proyek Iblisi?
Ia mulai mencari berbagai pembenaran yang lemah.
Di antara pembenaran-pembenaran itu adalah ucapan bahwa Quraisy tidak menerima kenabian dan kekhalifahan berkumpul dalam satu rumah.
Orang yang mengatakan hal ini sebenarnya tidak mengingkari Baiat Ghadir, melainkan sedang membuat pembenaran agar dapat mengabaikan baiat tersebut.
Mereka mengatakan:
“Bangsa Arab tidak ridha terhadap kekhalifahan Ali karena ia telah memerangi mereka.”
Mereka juga mengatakan bahwa persoalannya adalah persaingan usia.
Mereka mengatakan bahwa pada diri Ali terdapat sifat suka bercanda.
Mereka mengatakan ini dan itu.
Bahkan ketika Fatimah az-Zahra datang kepada kaum Anshar untuk menegur mereka, apa yang mereka katakan?
Mereka berkata:
“Seandainya Ali datang kepada kami sebelum kami membaiat Abu Bakar, niscaya kami akan membaiatnya.”
