Al-Ghadir ( 3 ) Cakrawala ketiga dari makna rinci Al-Ghadir adalah bahwa Al-Ghadir merupakan manhaj (metode) Al-Kitab dan Al-‘Itrah.
Keyakinan terhadap Al-Ghadir adalah keyakinan terhadap Al-Kitab dan Al-‘Itrah; Al-Kitab bersama Al-‘Itrah. Inilah hukum dan prinsip Al-Ghadir.
Cakrawala keempat bagi Al-Ghadir—yang juga merupakan cakrawala kelima—adalah bahwa Al-Ghadir berarti proyek Mahdawi.
Al-Ghadir berarti Imam Zaman kita, Al-Hujjah bin Al-Hasan عليه الصلاة والسلام.
Inilah kandungan hakiki Al-Ghadir.
Adapun kandungan-kandungan lainnya semuanya benar, namun kandungan-kandungan tersebut bukanlah inti dan hakikat terdalam dari makna Al-Ghadir.
Hakikat terdalam makna Al-Ghadir adalah Imam Zaman kita, Al-Hujjah bin Al-Hasan عليه الصلاة والسلام.
Dan baiat kita bukanlah kepada Pemimpin para Wasi saja. Setiap Imam memiliki perjanjian dan baiat yang berada di pundak manusia.
Baiat kita, dalam makna yang paling tinggi dan paling sempurna, adalah kepada Al-Hujjah bin Al-Hasan, bukan kepada Pemimpin para Wasi.
Baiat kita kepada Al-Hujjah bin Al-Hasan adalah baiat kepada Pemimpin para Wasi.
Kita berbaiat kepada Al-Hujjah bin Al-Hasan, dan baiat ini merupakan baiat kepada Pemimpin para Wasi.
Adapun orang yang ingin berbaiat kepada Pemimpin para Wasi tanpa memperhatikan baiat kepada Al-Hujjah bin Al-Hasan, maka baiat itu adalah baiat yang batil; baiat yang tidak memiliki makna.
Baiat Al-Ghadir adalah baiat kepada Al-Hujjah bin Al-Hasan.
Akan tetapi, kandungan ini banyak tersembunyi dari kalangan Syiah, dan itulah masalah Syiah: kebingungan mereka antara yang penting dan yang lebih penting.
Inilah masalah yang senantiasa menyertai Syiah sepanjang perjalanan sejarah: kebingungan antara yang penting dan yang lebih penting.
Baiat Al-Ghadir, dalam maknanya yang paling sempurna, adalah baiat kepada Imam Zaman kita عليه الصلاة والسلام.
Ayat yang menjadi petunjuk adalah ayat setelah ayat ke-110 dari Surah At-Taubah:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka…”
Ini adalah baiat.
“Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan.”
Transaksi ini adalah bersama Imam Al-Hujjah عليه الصلاة والسلام.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka…”
Baiat ini adalah baiat kepada Imam Zaman kita.
Dan inilah Al-Ghadir Alawi yang sesungguhnya.
Selain itu, memperingati peristiwa tersebut adalah sesuatu yang baik.
Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, Al-Ghadir memiliki beberapa cakrawala makna.
Makna pertama yang saya sebutkan adalah Al-Ghadir sebagai peristiwa waktu, yaitu pada tanggal delapan belas bulan Dzulhijjah.
Dan Al-Ghadir dalam makna baiat, yaitu baiat kepada Pemimpin para Wasi.
Ini juga termasuk salah satu makna dari baiat tersebut, salah satu makna dari akidah ini, dan salah satu makna dari judul Al-Ghadir.
Namun makna yang paling sempurna adalah bahwa **Al-Ghadir merupakan baiat kepada Imam Zaman kita, Al-Hujjah bin Al-Hasan salam atasnya.
