Al-Ghadir ( 2 )
Al-Ghadir memiliki beberapa cakrawala makna.
Cakrawala pertama: Al-Ghadir berarti peristiwa waktu, yaitu peristiwa sejarah yang rinciannya telah kalian ketahui: kepulangan Nabi ﷺ dari Haji Wada’, lalu sampainya beliau di Ghadir Khum. Selebihnya dari peristiwa tersebut kalian telah mengetahuinya.
Inilah cakrawala pertama dari makna rinci Al-Ghadir: Al-Ghadir sebagai sebuah peristiwa waktu.
Dan di sini, kita sebagai Syiah Ahlulbait di seluruh penjuru bumi memperingati peristiwa ini dengan makna yang pertama ini, yaitu cakrawala pertama dari makna rinci Al-Ghadir.
Tentu saja, bukan makna ini yang menjadi fokus pembahasan saya sekarang.
Cakrawala kedua dari cakrawala-cakrawala Al-Ghadir, dari cakrawala makna, petunjuk, kandungan, dan jaminan Al-Ghadir, adalah baiat.
Baiat termasuk salah satu ketentuan syariat yang memiliki dimensi keagamaan, dimensi politik, dimensi hukum, dan dimensi sosial.
Tidak ada bentuk khusus yang baku untuk baiat. Bentuk baiat berbeda-beda sesuai dengan perbedaan zaman dan tempat, bahkan mungkin juga berbeda sesuai dengan perbedaan individu.
Baiat adalah salah satu bentuk protokol.
Al-Ghadir dalam makna yang kedua adalah baiat, yaitu baiat kepada Pemimpin para Wasi.
Baiat ini tidak terbatas pada waktu tertentu atau tempat tertentu.
Syiah Ahlulbait senantiasa memperbarui baiat ini dalam ziarah mereka kepada Pemimpin para Wasi dan kepada seluruh Imam, baik ziarah dari dekat maupun dari jauh.
Hal itu merupakan salah satu contoh dari pembaruan baiat, jika seseorang menyadari hal tersebut.
Kehadiran kita di sini, dan peringatan kita terhadap peristiwa ini, merupakan salah satu bentuk pembaruan Baiat Ghadir.
Dalam azan, iqamah, salat, doa-doa kita, tawassul-tawassul kita, dan dalam setiap urusan kehidupan agama maupun duniawi kita, terdapat peneguhan kembali terhadap baiat ini.
Makna kedua dari makna-makna Al-Ghadir adalah baiat.
Dan baiat memiliki dua rukun:
- Wilayah (loyalitas dan kepemimpinan).
- Bara’ah (berlepas diri).
