Al-Ghadir ( 10 ) * Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.
Saya tidak mengira bahwa ayat ini, dalam kaitannya dengan urusan Ahlulbait, memerlukan tafsir atau penjelasan.
“Dan jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.”
Pembicaraan dalam ayat ini adalah tentang satu urusan dari urusan-urusan Ali bin Abi Thalib, yaitu Baiat Ghadir.
Jika satu urusan dari urusan-urusan Ali mencapai derajat seperti ini:
“Maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.”
Padahal antara turunnya ayat ini dan wafatnya Rasulullah ﷺ hanya berselang beberapa hari saja.
Setelah turunnya ayat ini, beberapa hari kemudian Nabi ﷺ meninggalkan dunia ini dalam keadaan diracun, syahid, dan terzalimi.
Hanya beberapa hari setelah turunnya ayat ini Nabi ﷺ wafat.
Artinya, seluruh perjalanan Nabi, seluruh risalah dengan segala rinciannya, yang Al-Qur’an Al-Karim merupakan salah satu bagian dari rincian risalah tersebut, seluruh risalah Muhammadiyah itu diletakkan pada satu sisi timbangan, sementara Baiat Ghadir berada pada sisi yang lain.
Baiat Ghadir adalah baiat dengan Allah sebelum menjadi baiat dengan Muhammad.
Baiat Ghadir adalah baiat dengan Allah sebelum menjadi baiat dengan Muhammad.
Baiat Ghadir adalah baiat dengan Allah, baiat dengan Muhammad ﷺ, dan baiat dengan Ali.
Namun pembicaraan kita adalah tentang Ali.
Karena Ali adalah Wajah Allah yang paling sempurna.
Dan Ali adalah Muhammad.
“Aku adalah Muhammad dan Muhammad adalah aku,” kata Al-Murtadha.
Dan Al-Musthafa berkata:
“Aku adalah Ali dan Ali adalah aku.”
Pembicaraan tentang Ali adalah pembicaraan tentang Muhammad ﷺ.
Seluruh risalah dengan semua rinciannya.
Jangan sampai ada yang membayangkan bahwa yang dibicarakan dalam ayat ini adalah nilai Muhammad atau nilai Ali.
Pembicaraan di sini adalah tentang nilai risalah.
“Dan jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.”
Pembicaraan bukan tentang nilai Muhammad, bukan tentang kedudukan Muhammad, bukan tentang derajat Muhammad.
Pembicaraan adalah tentang kedudukan risalah dan derajat risalah.
Bahwa risalah ini dengan seluruh rinciannya tidak memiliki nilai apabila dibandingkan dengan urusan Alawi ini, yaitu Baiat Ghadir.
Allah sendiri yang berfirman:
“Dan jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.”
Seakan-akan risalah itu tidak ada.
Keberadaannya dan ketiadaannya sama saja.
Artinya, ia tidak memiliki nilai.
Ketika sesuatu, antara ada dan tidak adanya sama saja, berarti ia tidak memiliki nilai.
Maka nilai risalah terletak pada urusan Alawi ini.
Pembicaraan bukan tentang kedudukan Muhammad atau Ali.
Muhammad adalah Ali dan Ali adalah Muhammad.
Baik risalah itu ada maupun tidak ada, baik Baiat Ghadir itu ada maupun tidak ada, Muhammad tetap Muhammad dan Ali tetap Ali.
Ini adalah urusan-urusan yang berkaitan dengan bumi.
Risalah dan Baiat Ghadir adalah urusan-urusan yang berkaitan dengan bumi.
Keduanya tidak berkaitan dengan diri Muhammad dan Ali itu sendiri.
Semua itu adalah urusan yang berasal dari mereka sebagai rahmat bagi para hamba, dan berkaitan dengan urusan kita.
Risalah adalah untuk kita.
Dan Baiat Ghadir adalah untuk kita.
Nabi tidak membutuhkannya, dan Ali juga tidak membutuhkannya.
“Dan jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.”
Ayat ini menjadikan seluruh risalah dengan segala rinciannya tidak bernilai jika dibandingkan dengan satu urusan dari urusan-urusan Ali.
Baiat Ghadir adalah suatu urusan Alawi.
Dan seluruh risalah dibuat tidak memiliki nilai tanpa urusan Alawi tersebut.
Pesan Inti al-Ghadir Al-Ghadir bukanlah sebuah kenangan yang disimpan dalam kalender, bukan pula sekadar peristiwa sejarah yang dirayakan setiap tahun. Al-Ghadir adalah sebuah perjanjian yang hidup. Ia bukan cerita tentang masa lalu, melainkan komitmen terhadap kepemimpinan Ilahi yang hadir dalam setiap zaman.
Kesalahan terbesar adalah ketika kita menjadikan Al-Ghadir sebagai nostalgia, sementara kita melupakan subjek utama baiat itu pada zaman kita sendiri.
Di Ghadir Khum, umat tidak diminta untuk sekadar mencintai Ali. Umat diminta untuk tunduk kepada garis kepemimpinan yang dimulai dari Ali dan berlanjut hingga Imam terakhir. Sebab Al-Ghadir bukanlah baiat kepada seorang tokoh sejarah, melainkan baiat kepada proyek Ilahi yang terus berjalan dalam sejarah manusia.
Karena itu, baiat Al-Ghadir pada abad pertama Hijriah adalah baiat kepada Ali. Baiat Al-Ghadir pada masa Hasan adalah baiat kepada Hasan. Pada masa Husain adalah baiat kepada Husain. Dan baiat Al-Ghadir pada zaman kita tidak lain adalah baiat kepada Imam Zaman, Al-Hujjah ibn al-Hasan عليه السلام.
Maka orang yang berbicara tentang Ghadir tetapi tidak mengenal Imam zamannya, sesungguhnya hanya memegang bayang-bayang Ghadir dan kehilangan hakikatnya. Ia menyebut nama Ali, tetapi tidak berjalan pada jalan yang ditunjukkan Ali. Ia merayakan peristiwa, tetapi melupakan tujuan peristiwa itu.
Al-Ghadir tanpa Imam Zaman hanyalah kenangan. Al-Ghadir dengan Imam Zaman adalah gerakan.
Al-Ghadir tanpa ma’rifat kepada Imam Zaman hanyalah slogan. Al-Ghadir dengan ma’rifat kepada Imam Zaman adalah kesadaran.
Al-Ghadir tanpa baiat kepada Imam Zaman hanyalah sejarah. Al-Ghadir dengan baiat kepada Imam Zaman adalah masa depan.
Karena itu, pertanyaan terbesar yang harus diajukan oleh setiap pecinta Ali bukanlah: “Apa yang terjadi di Ghadir?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Di manakah posisiku hari ini terhadap Imam yang menjadi kelanjutan Ghadir?”
Sebab Ghadir tidak berakhir di Khum. Ghadir berlanjut hingga hari kemunculan Imam Mahdi عليه السلام. Dan siapa yang ingin setia kepada baiat Ghadir, harus menjadikan pengenalan, penantian, ketaatan, dan kesetiaan kepada Imam Zaman sebagai inti dari seluruh komitmennya.
Di situlah Ghadir menemukan maknanya. Dan tanpa itu, Ghadir berubah dari sebuah perjanjian hidup menjadi sekadar peringatan sejarah.
