Tafsir Surat AlMudatsir : 50-51 Menurut Ahlbayt as


Hari ini manusia berkata:
“Kami mencintai Ali.”

Tetapi Ali yang mereka cintai hanyalah Ali yang sudah dijadikan sejarah.
Ali yang aman untuk dipuji.
Ali yang tidak lagi memerintah kehidupan mereka.
Ali yang dijadikan kaligrafi di dinding — bukan hujjah yang wajib ditaati.

Padahal Ali tidak pernah mati.

Wilayah Ali terus hidup dalam garis imamah.
Dan Ali hari ini adalah Imam Zaman Muhammad Bin Hasan alAskari al-Mahdi alaihissalam.

Karena imamah itu satu cahaya.
Awalnya Muhammad saw.
Lalu Ali.
Lalu Hasan.
Lalu Husain.
Sampai hujjah terakhir yang hidup di bumi hari ini : Al-Qaim as.

Maka siapa yang lari dari Imam Zaman, pada hakikatnya ia sedang lari dari Ali as.

Dan siapa yang memusuhi wilayah Imam Mahdi alaihissalam, sesungguhnya ia belum pernah mengenal wilayah Amirul Mukminin Ali as.

Sebab itu aneh melihat manusia menangis untuk Karbala — tetapi marah ketika disebut nama Imam Zaman as dengan makna wilayah yang hakiki.

Mereka nyaman mendengar: “Ali pemberani.” “Ali zuhud.” “Ali alHaidar pendobrak benteng Khaibar”.

Tetapi ketika dikatakan: Imam Zaman as adalah hujjah Allah yang wajib ditaati… Imam Zaman adalah kelanjutan Ali as … Imam Zaman adalah poros agama… Imam Zaman as adalah pemilik hak atas bumi dan manusia…

mereka mulai gelisah.

Wajah mereka berubah.
Nada bicara mereka menjadi gelagapan.
Mereka ingin pembicaraan itu segera dihentikan. Menyakitkan.

Mengapa?

Karena wilayah hidup selalu menuntut sikap.
Ia tidak membiarkan manusia bersembunyi di balik romantisme sejarah.

Dan di situlah ayat itu hidup kembali:

﴿ كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ ۞ فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ ﴾

“Seakan-akan mereka itu keledai-keledai liar yang ketakutan, lari dari singa.”

Imam Ja’far al-Sadiq alaihissalam berkata bahwa mereka lari ketika mendengar keutamaan Muhammad Dan Ahlbayt alaihimussalam.

Dan hari ini engkau melihat ayat itu berjalan di depan matamu.

Cukup sebut: “Imam Zaman di halaman digital mereka ”

Maka sebagian manusia langsung ketakutan. Lari tungganglanggang.

Mereka ingin pembicaraan dialihkan saja.
Mereka ingin wilayah yang disepakati saja maknanya.
Mereka ingin nama Ahlulbayt as diperkecil suaranya, hanya menjadi simbol spiritual tanpa otoritas.

Karena selama nama Imam Zaman as disebut, seluruh bangunan agama palsu mereka terancam runtuh. Hancur berkeping-keping.

Imam Zaman as berarti: agama harus kembali kepada hujjah Allah.
Imam Zaman berarti: tidak setiap orang berhak berbicara atas nama Qur’an.
Imam Zaman berarti akidah tauhid hanya bersumber Dari Makshumin as.
Imam Zaman berarti: tidak ada ulama selain 14 manusia suci.

Dan umat manusia membenci semua itu.

Mereka rela berbicara tentang filsafat, politik, mistik, kemanusiaan, spiritualitas, bahkan cinta Tuhan — tetapi ketika disebut: “wilayah Imam Zaman…”

mereka lari. Mereka tidak sanggup melihat huruf-huruf tersusun Dan berbunyi :

I M A M Z A M A N adalah Agamaku. Agamaku adalah IMAM ZAMAN.

Jika mampu, mereka ingin berlari sejauh-jauhnya agar tidak lagi mendengar kata: “Imam Zaman.”

Mereka ingin dunia tanpa hujjah.
Mereka ingin Islam tanpa imam.
Mereka ingin Qur’an tanpa Tafsir Ahlulbayt as.

Karena keberadaan Imam hidup menghancurkan ilusi bahwa manusia bebas menentukan agama menurut hawa nafsunya sendiri.

Itulah sebabnya nama Imam Zaman menyingkap isi hati manusia.

Pecinta wilayah mendengarnya lalu hatinya hidup.
Tetapi hati yang sakit mendengarnya seperti keledai liar melihat singa.

Panik.
Gelisah.
Ingin melarikan diri.

Karena singa itu adalah kebenaran.
Dan kebenaran selalu menakutkan bagi jiwa yang terbiasa hidup tanpa cahaya wilayah.

Menurut tafsir ini ; Lihatlah apakah kamu Singa atau keledai dengan memeriksa apakah kamu lari menjauh ketika melihat nama Imam Zaman as ditulis atau diperdengarkan.

كأنهم حمر مستنفرة ، فرت من قسورة

Mereka bagai keledai-keledai yang lari ketakutan Dari Singa..

Asslaamualaika Ya Imama zamaaan …❤️❤️❤️