Alquran Tanpa Ali as _ Al-Qur’an itu diam di tangan manusia yang buta ruhani. Ia tidak berbicara kepada setiap lidah. Ia tidak membuka rahasianya kepada setiap orang yang hafal huruf-hurufnya. Karena itu أمير المؤمنين Ali ibn Abi Talib berkata: > «ذَلِكَ الْقُرْآنُ فَاسْتَنْطِقُوهُ وَلَنْ يَنْطِقَ» “Al-Qur’an itu, mintalah ia berbicara — tetapi ia tidak akan berbicara.” Mengapa ia tidak berbicara? Karena manusia telah terlalu lama mendengar suara dirinya sendiri lalu menamakannya “tafsir”. Yang berbicara bukan Al-Qur’an — melainkan ego, mazhab, kepentingan, kekuasaan, mimbar, dan pasar agama. Sejarah Islam dipenuhi orang-orang yang menjadikan ayat sebagai topeng. Mereka membaca Qur’an, tetapi membunuh ruh Qur’an. Mereka mengangkat mushaf di tangan, namun menurunkan nilai-nilainya ke lumpur politik dan kebodohan. Bukankah kaum Khawarij juga membaca Qur’an? Bukankah istana-istana Bani Umayyah dipenuhi qari dan fuqaha? Tetapi mengapa pedang mereka justru diarahkan ke leher putra-putra Nabi? Karena Qur’an tanpa Ahlulbayt adalah teks yang disandera. Huruf-hurufnya tetap suci — tetapi maknanya dapat diperkosa oleh siapa saja. Allah sendiri telah menetapkan siapa penjaga hakikat Qur’an: > ﴿إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا﴾ “Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan segala kotoran dari kalian wahai Ahlulbayt dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.” — QS al-Ahzab: 33 Dan Nabi ﷺ meninggalkan wasiat yang tidak memberi ruang bagi kebingungan: > «إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ اللَّهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي، مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا» “Aku tinggalkan pada kalian dua pusaka berat: Kitab Allah dan itrati Ahlulbaytku. Selama kalian berpegang kepada keduanya, kalian tidak akan sesat selamanya.” — Hadis Tsaqalayn Perhatikan baik-baik: Nabi tidak berkata “Qur’an saja”. Karena Qur’an yang dipisahkan dari Ahlulbayt akan berubah menjadi senjata di tangan para penafsir palsu. Maka tragedi terbesar umat ini bukan kebodohan membaca Qur’an — tetapi keberanian menafsirkan Qur’an tanpa cahaya Muhammad dan آل محمد. Ada manusia-manusia yang belum pernah membersihkan batin, belum mengenal wilayah, belum mengenal imam zamannya — namun naik ke mimbar lalu berkata: “Menurut tafsir saya…” Seakan-akan wahyu turun ke pikirannya. Seakan-akan ia lebih mengerti Kitab Allah daripada rumah tempat wahyu itu turun. Padahal Rasulullah ﷺ telah memberi ancaman yang menggetarkan: > «مَنْ فَسَّرَ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ» “Barang siapa menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” Dalam riwayat lain: > «مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ» “Barang siapa berbicara tentang Al-Qur’an tanpa ilmu, maka tempatnya adalah neraka.” Dan dari Imam Ja’far ash-Shadiq Ja’far al-Sadiq: > «مَنْ فَسَّرَ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ إِنْ أَصَابَ لَمْ يُؤْجَرْ وَإِنْ أَخْطَأَ فَهُوَ أَبْعَدُ مِنَ السَّمَاءِ» “Barang siapa menafsirkan Qur’an dengan ra’yunya sendiri — jika benar pun ia tidak diberi pahala, dan jika salah maka ia lebih jauh daripada langit.” Sebab Al-Qur’an bukan buku filsafat bebas tafsir. Ia adalah cahaya imamah. Dan cahaya itu hanya dikenali oleh orang yang mengambil pelitanya dari rumah Fatimah. Hari ini umat menangis karena perpecahan. Tetapi mereka lupa: perpecahan dimulai ketika setiap orang merasa dirinya layak menjadi lidah Al-Qur’an. Padahal Imam Ali telah berkata: > «وَإِنَّمَا يَنْطِقُ عَنْهُ الرِّجَالُ» “Sesungguhnya yang berbicara atas nama Qur’an adalah manusia-manusia tertentu.” Bukan semua orang. Bukan penguasa. Bukan orator. Bukan para pedagang agama. Melainkan mereka yang disucikan. Mereka yang rumahnya menjadi tempat turun malaikat. Mereka yang nafasnya menyambung kepada nafas Rasulullah ﷺ. Karena Qur’an tanpa Ali adalah teks yang bisa diperdagangkan. Tetapi Qur’an bersama Ali adalah jalan menuju Allah swt.