Sifat-sifat suatu kaum dari negeri-negeri langit lain yang disimpan untuk menolong Imam Zaman as
__
Dari Hisyam al-Jawaliqi, dari Abu Abdillah Ja’far al-Sadiq alaihisalam bahwa beliau berkata:
“Sesungguhnya Allah memiliki sebuah kota di balik lautan, luasnya sejauh perjalanan empat puluh hari. Di dalamnya ada suatu kaum yang sama sekali tidak pernah bermaksiat kepada Allah. Mereka tidak mengenal Iblis dan tidak mengetahui penciptaan Iblis.
Kami menemui mereka setiap waktu, lalu mereka bertanya kepada kami tentang apa yang mereka butuhkan, dan mereka meminta doa kepada kami, maka kami mengajari mereka. Mereka juga bertanya kepada kami tentang Qa’im kami hingga ia muncul.
Pada mereka terdapat ibadah dan kesungguhan yang sangat kuat. Kota mereka memiliki pintu-pintu, jarak antara dua daun pintunya seratus farsakh. Mereka memiliki penyucian dan kesungguhan yang sangat besar. Jika kalian melihat mereka, niscaya kalian akan meremehkan amal kalian sendiri.
Seseorang dari mereka salat selama sebulan tanpa mengangkat kepalanya dari sujud. Makanan mereka adalah tasbih dan pakaian mereka adalah dedaunan. Wajah-wajah mereka bersinar dengan cahaya.
Apabila mereka melihat salah seorang dari kami, mereka mengelilinginya dan berkumpul di sekitarnya. Mereka mengambil bekas langkahnya di bumi untuk mencari berkah darinya.
Mereka memiliki suara gemuruh ketika salat yang lebih dahsyat daripada suara angin topan.
Di antara mereka ada suatu kelompok yang tidak pernah meletakkan senjata sejak mereka ada, karena mereka menunggu Qa’im kami. Mereka berdoa agar diperlihatkan kepadanya. Umur salah seorang dari mereka seribu tahun.
Jika engkau melihat mereka, engkau akan melihat kekhusyukan, kerendahan diri, dan pencarian terhadap apa yang mendekatkan mereka kepada-Nya.
Jika kami terhalang dari mereka, mereka mengira itu karena kemurkaan. Mereka memperhatikan waktu ketika kami datang kepada mereka. Mereka tidak bosan dan tidak lemah.
Mereka membaca Kitab Allah sebagaimana kami mengajarkannya kepada mereka. Dan sungguh, di dalam apa yang kami ajarkan kepada mereka terdapat hal-hal yang jika dibacakan kepada manusia niscaya mereka akan kafir terhadapnya dan mengingkarinya.
Mereka bertanya kepada kami tentang sesuatu yang datang kepada mereka dari Al-Qur’an yang tidak mereka ketahui. Maka apabila kami memberitahukannya kepada mereka, dada mereka menjadi lapang karena apa yang mereka dengar dari kami.
Mereka memohon kepada Allah agar dipanjangkan umur mereka dan agar mereka tidak kehilangan kami. Mereka mengetahui bahwa karunia Allah atas mereka dalam apa yang kami ajarkan kepada mereka adalah sangat agung.
Mereka memiliki keberangkatan bersama Imam ketika beliau bangkit. Mereka mendahului para pemilik senjata di antara mereka. Mereka berdoa kepada Allah agar dijadikan termasuk orang-orang yang menolong agama-Nya melalui Imam itu.
Di antara mereka ada orang-orang tua dan para pemuda. Jika seorang pemuda dari mereka melihat seorang tua, ia duduk di hadapannya seperti duduknya seorang budak dan tidak bangkit sampai diperintah.
Mereka memiliki jalan yang mereka lebih mengetahuinya daripada seluruh makhluk menuju tempat yang diinginkan Imam. Jika Imam memerintahkan mereka suatu urusan, mereka akan terus melaksanakannya sampai Imam sendiri memerintahkan selainnya.
Seandainya mereka menyerbu seluruh makhluk antara timur dan barat, niscaya mereka akan membinasakan mereka dalam satu saat. Besi tidak bekerja pada mereka.
Mereka memiliki pedang dari besi yang bukan seperti besi ini. Jika salah seorang dari mereka memukul gunung dengan pedangnya, niscaya gunung itu akan terbelah hingga terpisah.
Imam akan memerangi dengan mereka negeri India, Dailam, Kurk, Turki, Romawi, Barbar, dan wilayah antara Jabarsa dan Jabalqa — yaitu dua kota, satu di timur dan satu di barat.
Mereka tidak mendatangi pemeluk agama mana pun kecuali mereka mengajak mereka kepada Allah, kepada Islam, dan kepada pengakuan terhadap Muhammad ﷺ. Barang siapa tidak masuk Islam maka mereka membunuhnya, hingga tidak tersisa antara timur dan barat serta apa yang ada di bawah gunung seorang pun kecuali telah mengakuinya.”
📚 Bashā’ir ad-Darajāt
