Nasib Pengarang Tafsir

__

Tragedi terbesar dalam sejarah agama bukan ketika manusia meninggalkan Al-Qur’an.
Tragedi terbesar justru terjadi ketika manusia mengaku berbicara atas nama Al-Qur’an padahal Allah tidak pernah memberi mereka otoritas untuk itu.

Di situlah lahir agama tanpa cahaya.
Agama yang penuh kutipan tetapi kosong wilayah.
Agama yang fasih berbicara tentang Tuhan namun tidak mengenal hujjah Tuhan.

Karena dalam manhaj Ahlulbayt, ilmu bukan hasil banyak membaca.
Ilmu bukan hasil hafalan.
Ilmu bukan gelar, sorban, mimbar, atau tepuk tangan massa.

Ilmu sejati adalah نور.
Cahaya ilahi.
Warisan kenabian.
Dan cahaya itu tidak dilemparkan ke sembarang hati.

Sebab itu ketika Al-Qur’an menyebut “ulama”, kebanyakan manusia langsung membayangkan para ahli fikih, para penceramah, para penulis kitab.
Padahal Ahlulbayt mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dahsyat:

Ulama hakiki adalah mereka yang Allah jadikan sebagai خزنة علمه — penjaga ilmu-Nya.
Mereka bukan pencari kebenaran.
Mereka adalah sumber kebenaran.

Mereka bukan murid Al-Qur’an.
Mereka adalah lisan Al-Qur’an.

Bukankah أمير المؤمنين Ali ibn Abi Talib telah berkata:

«ذَلِكَ الْقُرْآنُ فَاسْتَنْطِقُوهُ وَلَنْ يَنْطِقَ»

“Mintalah Qur’an berbicara, tetapi ia tidak akan berbicara.”

Lalu siapa yang berbicara?

«وَإِنَّمَا يَنْطِقُ عَنْهُ الرِّجَالُ»

“Sesungguhnya yang berbicara atas nama Qur’an adalah manusia-manusia tertentu.”

Bukan semua orang.
Bukan siapa saja yang menghafal bahasa Arab.
Bukan siapa saja yang membuka kitab tafsir.

Karena Qur’an bukan sekadar teks.
Ia memiliki zhahir dan bathin.
Dan bathinnya tidak dibuka kecuali kepada mereka yang disucikan.

Allah berfirman:

﴿لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ﴾
“Tidak ada yang menyentuhnya kecuali mereka yang disucikan.”
— QS al-Waqi‘ah: 79

Ahlulbayt menafsirkan bahwa “menyentuh” di sini bukan hanya menyentuh mushaf dengan tangan.
Tetapi menyentuh hakikat Qur’an.

Karena itu mustahil orang yang masih dipenuhi kegelapan nafsu, fanatisme, ambisi dunia, dan kebodohan ruhani — lalu mengklaim dirinya sebagai mufassir Kalamullah.

Dalam pandangan Ahlulbayt, ulama sejati hanyalah para hujjah Allah.
Empat belas manusia suci: Rasulullah ﷺ, Fatimah az-Zahra, dan dua belas Imam suci عليهم السلام.

Mereka adalah:

gerbang ilmu Nabi,

pewaris wahyu,

penerjemah hakikat,

dan lisan Allah di bumi.

Di luar mereka, manusia hanya belajar.
Bisa benar, bisa salah.
Bisa dekat, bisa tersesat.

Tetapi umat ini melakukan kesalahan fatal:
mereka menyamakan “pengkaji agama” dengan “hujjah Allah”.

Akibatnya, setiap orang merasa memiliki hak untuk berbicara atas nama Qur’an.
Maka lahirlah ribuan tafsir, ribuan mazhab, ribuan fatwa — namun hati manusia semakin jauh dari cahaya Muhammad وآل محمد.

Padahal Rasulullah ﷺ telah menutup pintu kesesatan itu sejak awal:

«إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ اللَّهِ وَعِتْرَتِي»

“Aku tinggalkan kepada kalian Kitab Allah dan itrati Ahlulbaytku.”

Beliau tidak berkata: “Kitab Allah dan para cendekiawan.” Tidak pula: “Kitab Allah dan mayoritas umat.”

Karena satu-satunya pasangan Qur’an adalah Ahlulbayt.
Siapa memisahkan keduanya, ia pasti tersesat meski tampak alim di mata manusia.

Maka betapa mengerikannya ketika seseorang berdiri di mimbar lalu berkata: “Menurut ijtihad saya…” “Menurut analisis saya…” “Menurut pemahaman saya…”

Padahal ia tidak pernah disucikan Allah.
Tidak pernah menjadi pintu kota ilmu Nabi.
Tidak pernah menjadi hujjah atas makhluk.

Ini bukan kerendahan hati ilmiah lagi.
Ini adalah perebutan otoritas langit.

Dan karena itu ancamannya sangat keras.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ فَسَّرَ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»

“Siapa menafsirkan Qur’an dengan pendapatnya sendiri maka siapkan tempat duduknya di neraka.”

Perhatikan:
bukan sekadar “ia salah”.
Tetapi neraka.

Karena berbicara atas nama Qur’an tanpa izin ilahi berarti berbicara atas nama Allah tanpa cahaya dari Allah.

Dan lebih mengerikan lagi:
orang-orang awam yang mengikuti penafsiran gelap itu ikut terseret ke dalam kegelapan yang sama.

Sebab penafsir palsu tidak hanya merusak dirinya.
Ia membangun agama palsu di dalam jiwa manusia.

Karena itu para Imam tidak mengajak manusia kepada “kebebasan tafsir”.
Mereka mengajak manusia kembali kepada sumber tafsir.

Kembali kepada pintu kota ilmu.
Kembali kepada keluarga wahyu.
Kembali kepada manusia-manusia yang tidak berbicara dari hawa nafsu.

Sebab hanya mereka yang mengenal Al-Qur’an sebelum Al-Qur’an turun ke bumi.
Dan hanya mereka yang mengetahui rahasia ayat sebelum huruf-hurufnya dibaca manusia.

Di luar 14 manusia suci dalam konteks alquran adalah orang-orang bodoh yang tidak mengerti satu huruf pun Dari Alquran. Di hadapan alquran tidak ada ulama Sunni , ulama Wahabi, ulama Syiah, ulama Irfan, ulama tasawuf. Karna itu Allah tidak izinkan mereka menafsirkan Quran. Apa pun alasannya.