Hari-hari Allah Yang Dilupakan


“Ayyāmullāh” bukan hari-hari biasa. Ia adalah hari ketika sejarah pecah. Hari ketika Tuhan masuk ke dalam perjalanan manusia bukan dengan bisikan samar, tetapi dengan guncangan yang merobohkan seluruh berhala zaman.

Hari Zhuhur. Hari Raj’ah. Hari Kiamat.

Tiga hari ini bukan sekadar episode teologis. Ia adalah poros kesadaran seorang mukmin.

Masalahnya, umat telah terlalu lama diajarkan agama yang jinak. Agama yang hanya mengajari manusia bagaimana mati dengan sopan, tetapi tidak bagaimana memahami proyek besar Allah dalam sejarah. Maka Raj’ah dikecilkan menjadi dongeng pinggiran. Dibahas dengan malu-malu. Disebut sebentar lalu segera ditutup. Seolah ia noda dalam akidah, bukan jantung dari visi Ilahi tentang kemenangan kebenaran.

Padahal bagaimana mungkin seseorang mengimani Raj’ah jika ia bahkan tidak pernah diajari apa itu Raj’ah?

Iman bukan mantra. Iman bukan warisan lidah. Iman lahir dari ma‘rifah yang benar yang datang Dari Ahlbayt as.

Dan Raj’ah adalah samudera ma‘rifah. Makrifah Maha Luas tak bertepi.

Ia berbicara tentang hakikat keadilan. Tentang kesinambungan sejarah para nabi. Tentang mengapa darah para syuhada tidak mungkin dibiarkan mengering tanpa jawaban. Tentang mengapa bumi harus menyaksikan kemenangan para wali Allah sebelum kiamat menelan segala sesuatu.

Raj’ah bukan sekadar “orang mati hidup kembali”. Itu pemahaman anak kecil terhadap sebuah kosmologi besar.

Raj’ah adalah deklarasi bahwa sejarah belum selesai. Bahwa Karbala belum ditutup. Bahwa pembunuh masih akan dipertemukan dengan yang dibunuh. Bahwa yang tertindas akan kembali berdiri di bumi yang dulu diinjak wajahnya. Dan bahwa Al-Husayn ibn Ali as bukan hanya syahid untuk dikenang, tetapi pemimpin proyek Ilahi yang akan kembali menyaksikan kemenangan agama kakeknya di muka bumi.

Karena itu, mengenal Raj’ah adalah bagian dari ma‘rifah terhadap hak Al-Husayn ibn Ali as.

Sebab apa arti “ya tsaarāt al-Husayn” jika sejarah tidak pernah benar-benar menuntut balas atas darahnya? Apa arti janji kemenangan mustadh‘afin jika seluruh korban kezaliman hanya diminta sabar lalu dipindahkan ke akhirat? Apa arti keadilan Tuhan jika Fir‘aun sejarah mati nyaman sementara para wali-Nya terkubur tanpa pembalasan di bumi?

Raj’ah datang menghancurkan agama pasif semacam itu.

Ia mengajarkan bahwa Allah bukan hanya Tuhan akhirat— Dia juga Tuhan penggerak sejarah.

Lalu mengapa banyak tafsir tidak membaca “Ayyāmullāh” sebagai Raj’ah?

Karena sejak awal banyak pengarang tafsir memang tidak percaya akan hari Raj’ah. Sesederhana itu.

Seseorang hanya akan melihat sejauh keyakinannya memungkinkan ia melihat. Siapa yang tidak membahas Raj’ah hanya menunjukkan bahwa ia tidak meyakini hadis-hadis Ahlbayt as : Jangan shalat di belakang mereka yang tidak meyakini Raj’ah kami.

Ketika Raj’ah tidak dianggap sebagai bagian penting dari akidah, maka seluruh ayat tentang “kembali”, “dikeluarkan dari kubur”, “dikumpulkan sebagian umat”, “dihidupkan setelah mati”, semuanya dipaksa masuk ke satu kotak bernama kiamat.

Padahal Al-Qur’an berbicara dengan lapisan-lapisan makna sejarah.

Tetapi bagaimana seseorang akan menemukan Raj’ah dalam Al-Qur’an jika sejak awal ia telah memutuskan bahwa Raj’ah tidak perlu diyakini?

Tafsir sering kali bukan cermin Al-Qur’an. Ia cermin keyakinan si pengarang si mufassir.

Karena itu banyak ayat kehilangan ruh revolusionernya. Ayat-ayat yang berbicara tentang kembalinya para wali Allah ke panggung sejarah dipenjara hanya menjadi simbol-simbol akhirat yang jauh dan abstrak.

Agama lalu kehilangan dimensi historisnya. Karbala berubah menjadi ritual air mata. Mahdi as berubah menjadi legenda penenang. Raj’ah berubah menjadi topik terlarang.

Dan umat diajarkan bahwa tugas mereka hanyalah menunggu kematian. Dan dihisab di hari kiamat.

Padahal agama Muhammad al-Mahdi as adalah agama penantian yang bergerak. Penantian yang sadar bahwa sejarah belum selesai. Bahwa Ayyāmullāh masih akan datang. Dan bahwa bumi suatu hari akan dipenuhi oleh wajah-wajah yang pernah dibantai oleh tirani—kembali berdiri, kembali berbicara, kembali memimpin sejarah menuju Allah.

Agama Ahlbayt as memandang bahwa kehidupan yang Sesungguhnya belum dimulai. Kehidupan baru dimulai pada Hari-hari Allah ( AyyamuLlah ) Hari Zhuhur kemudian diikuti Hari Raj’ah kecil lalu hari Raj’ah Agung di mana Daulah Alawiyah berumur 40 ribu tahun Dan Daulah Muhammad saw berumur 50 ribu tahun. Setelah itu barulah hari Kiamat.

Ketika Syiah berubah jadi Mazhab maka saat itu isu-isu akidah menjadi tidak lagi penting untuk dikaji Dan dipelajari. Mazhab Syiah lebih tertarik dg tafsir yang datang Dari pengarang-pengarang tafsir yang tidak punya otoritas daripada tafsir suci Ahlbayt as. Mazhab Syiah lebih suka membahasa akidah yang tidak berasal Dari para Makshumin alaihimusalam.

Tafsir Ahlbayt as sangat Ditakuti dijauhkan Dan ditinggalkan oleh mereka yang mengaku-aku sebagai pecinta Ahlbayt as.

Tulisan atau kajian di mana Imam Ahlbayt as dijadikan isu utama dapat dipastikan bahwa orang-orang takut mengikutinya kecuali mereka yang makrifah Ahlbayt as dengan makrifah yang benar. Dan makrifah itu hanya didapat dalam ruang di mana Ahlbayt as dilihat sebagai agama bukan sebagai mazhab.