Mazhab Syiah Melahirkan Ziarah Ritual Vs Agama Syiah Melahirkan Ziarah Makrifah
Ziarah Al-Husayn ibn Ali as bukan hanya perjalanan menuju Pusaranya belaka.
Ia adalah perjalanan menuju sebuah tanggung jawab sejarah.
Karena itu hadis tidak berkata:
“Barangsiapa menziarahi Husain sambil menangis.”
Tetapi : “siapa menziarahi Husain dalam keadaan mengenal haknya.”
Di sinilah agama dipisahkan dari sentimentalitas massal.
Sebab mencintai Husain as tanpa memahami hak Husain hanya akan melahirkan generasi yang pandai meratap tetapi gagal mewarisi misi Karbala yang seharusnya.
Lalu, apa hak Husain as itu ?
Apakah sekadar dikenang? Apakah sekadar dijadikan syair? Apakah sekadar ditangisi setiap Muharram lalu dilupakan ketika pasar, politik, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan kembali dikuasai Yazid-Yazid dengan berbagai modusnya.
Tidak.
Hak Husain as adalah tegaknya proyek Ilahi di bumi. Hak Husain as adalah lahirnya masyarakat tauhid. Hak Husain as adalah kemenangan Imam dari keluarga Muhammad atas sejarah tirani. Hak Husain as adalah jalan menuju Muhammad al-Mahdi as. Hak Husain as adalah Makrifah Imam Zaman as. Hak Husain as adalah menolak peradaban Bakri, Yazidi, Umawi, Abbasi, Utsmani, atas nama Ahlbayt sekali pun.
Karena itu ziarah Husain sejatinya bukan “untuk Husain” as.
Al-Husain as tidak membutuhkan air mata kita.
Yang membutuhkan perubahan adalah kita.
Ziarah dilakukan demi haqq al-Husain as : yakni demi kesiapan menyambut zuhur Al-Qa’im as.
Sebab orang yang benar-benar mengenal Husain as akan memahami bahwa Karbala belum selesai. Darah itu masih bergerak. Tangisan itu masih menuntut jawaban sejarah. Dan jawaban sejarah itu bernama Al-Mahdi as.
Maka ukuran keberhasilan ziarah bukan seberapa keras seseorang menangis— tetapi seberapa besar ia berubah menjadi manusia penanti yang produktif.
Apakah setelah ziarah ia menjadi lebih sadar? Lebih berani? Lebih berilmu? Lebih disiplin? Lebih kreatif? Lebih berguna bagi umat? Lebih siap membangun masyarakat yang layak bagi kemunculan Imam Zaman as ?.
Atau malah lebih menjauh Dari segala seruan kepada Imam Zaman as.
Ataukah ia kembali dari Karbala hanya membawa foto, nostalgia emosional, dan kesedihan musiman yang menguap beberapa hari kemudian?
Inilah tragedi besar umat: Karbala dijadikan industri emosi. Industri sentimentiil.
Air mata diproduksi massal, tetapi kesadaran tidak pernah lahir. Ilmu tidak bertambah. Makrifah tidak mengkualitas.
Majlis dipenuhi ratapan, tetapi tidak melahirkan manusia yang mampu memikul proyek peradaban Imam Zaman as.
Padahal Imam Ja’far al-Sadiq as — manusia yang paling mengenal haqq al-Husain as— justru berkata:
“Seandainya aku menjumpai Al-Qa’im, aku akan mengkhidmatinya sepanjang hidupku.”
Lihatlah kedalaman kalimat itu.
Seluruh cinta kepada Husain as bermuara pada khidmat kepada Al-Qa’im as.
Seluruh energi Karbala diarahkan menuju pembangunan masa depan.
Karena alMahdi as tidak muncul untuk memimpin komunitas pemabuk emosi. Beliau datang untuk memimpin manusia-manusia matang: manusia yang berpikir, mencipta, membangun, berkorban, demi Imam Zaman as bukan demi musuh-musuhnya.
Maka penantian sejati bukan duduk pasif sambil menghitung tanda-tanda akhir zaman.
Penantian adalah kerja. Penantian adalah produksi. Penantian adalah kreativitas. Penantian adalah membangun ilmu, budaya, ekonomi, pendidikan, media, dan kesadaran yang berdiri di pihak Imam Zaman as.
Kalau tidak, maka ziarah hanya menjadi ritual tahunan: air mata naik ke mata, lalu menguap ke udara, sementara dunia tetap diwarisi oleh manusia-manusia berwatak Yazid anak pengunyah jantung Hamzah Bin Abdulmuthalib Salam Allah atas ruhani sucinya.
Menangisi alHusain as adalah efek , adalah keniscayaan , yang lebih penting setelah itu adalah perubahan jiwa yang lebih berkhidmat pada Imam Zaman as.
🌹🌹🌹
