Nasib
_
Di Dalam Apa Engkau Memberi Makan Jiwamu?
Bermula dari sesuatu yang tak terlihat—
sebuah lintasan kecil dalam kepala,
sebuah bisikan yang tak terdengar oleh siapa pun
selain dirimu sendiri.
Lalu ia turun menjadi kata.
Kata menjadi langkah.
Langkah menjadi jalan yang berulang.
Dan jalan yang berulang itu
perlahan membangun wajah batinmu.
Begitulah nasib dilahirkan.
Bukan dari langit yang tiba-tiba jatuh,
bukan dari takdir yang datang tanpa sebab,
melainkan dari sesuatu yang setiap hari
engkau izinkan masuk
ke dalam jiwamu.
Karena manusia sesungguhnya
dibangun oleh apa yang ia konsumsi.
Tubuhmu dibentuk oleh roti dan air.
Tetapi ruhmu—
dibentuk oleh ilmu,
oleh makna,
oleh suara yang setiap hari
kau biarkan tinggal di kepalamu.
Maka Al-Qur’an berseru
dengan peringatan yang tampak sederhana:
فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ
“Hendaklah manusia memperhatikan makanannya.”
Namun para pecinta cahaya memahami:
yang dimaksud bukan sekadar gandum dan daging.
Sebab ada kelaparan
yang tidak bisa dipuaskan oleh dunia.
Ada ruh yang mati
meski tubuhnya kenyang.
Dan ada manusia
yang tampak hidup di pasar-pasar bumi,
namun jiwanya telah lama terkubur
di bawah tumpukan pengetahuan yang palsu.
Karena tidak semua ilmu adalah cahaya.
Sebagian hanya kabut
yang membuat manusia merasa melihat
padahal ia sedang tersesat.
Maka perhatikan apa yang memenuhi pikiranmu.
Karena ia akan menjadi bahasamu.
Perhatikan bahasamu.
Karena ia akan menjadi tindakanmu.
Perhatikan tindakanmu.
Karena ia akan menjadi kebiasaanmu.
Perhatikan kebiasaanmu.
Karena ia akan menjadi karaktermu.
Dan karaktermu itulah
yang kelak berdiri sebagai nasibmu.
Di sinilah manusia diuji:
dari mana ia mengambil makanannya?
Dari sumber yang jernih—
atau dari genangan yang keruh?
Dari cahaya para pewaris langit—
atau dari bayangan manusia
yang berbicara tanpa petunjuk?
Sebab tidak ada ma’rifah kepada Allah
tanpa ma’rifah kepada Muhammad ﷺ
dan Ahlulbaytnya.
Merekalah mata air yang tidak tercampur.
Merekalah roti bagi ruh-ruh yang lapar.
Merekalah cahaya
yang tidak berubah menjadi gelap
meski dunia tenggelam dalam malam.
Barangsiapa berpaling dari mereka,
ia tetap makan—
tetapi yang ia makan hanyalah ilusi.
Ia kenyang oleh kata-kata,
namun lapar akan kebenaran.
Ia merasa tahu,
padahal yang ia genggam
hanya bayangan pengetahuan.
Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَعْرِفْ إِمَامَ زَمَانِهِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
Betapa mengerikannya kematian jahiliyah itu—
bukan karena manusia tidak berpikir,
tetapi karena ia membiarkan pikirannya
diberi makan oleh selain cahaya.
Lalu seluruh rantai hidupnya rusak:
pikiran,
kata,
tindakan,
kebiasaan,
karakter,
hingga akhirnya nasibnya sendiri.
Maka jika engkau ingin mengubah hidupmu,
jangan mulai dari wajah luarmu.
Jangan hanya mengganti tindakanmu
sementara jiwamu masih memakan racun yang sama.
Mulailah dari apa yang kau izinkan
masuk ke dalam kesadaranmu.
Karena di sanalah segala sesuatu bermula.
Dan dari sanalah—
seorang manusia
sedang dibangun…
atau sedang dihancurkan.
