Manusia Hanya ada 3 Kelompok ; Ulama ( Al-Makshumin as ) , Penuntut Ilmu ( Di luar Makshumin ), Dan Awam.


Imam Ali bin Husain as berkata:

“Sesungguhnya agama Allah tidak dicapai dengan akal-akal yang cacat, pendapat-pendapat yang batil, dan qiyas-qiyas yang rusak. Agama Allah hanya dicapai dengan taslim…”

Kalimat ini bukan sekadar nasihat akhlak.

Ini adalah deklarasi penghancuran terhadap semua berhala intelektual dalam agama.

Sebab tragedi terbesar manusia bukan ketika ia bodoh— tetapi ketika ia merasa cukup pintar untuk berbicara atas nama Allah.

Sejak saat itu, agama tidak lagi turun dari langit.

Ia diproduksi oleh pikiran manusia.

Lalu manusia mulai membangun “Islam”-nya sendiri.

Ada Islam versi Teolog.
Ada Islam versi filsuf.
Ada Islam versi Tasawuf.
Ada Islam versi Kaum Irfan.
Ada Islam versi Pengarang Tafsir.
Ada Islam versi penguasa.
Ada Islam versi ahli Kalam.
Ada Islam versi kaum rasionalis.
Ada Islam versi politik.
Ada Islam versi selera zaman.

Dan yang paling berbahaya: semua berbicara atas nama Qur’an Dan diikuti oleh para muqalid mereka yang malas berpikir.

Padahal Imam as berkata:

“Agama Allah tidak dicapai dengan akal-akal yang cacat dan pendapat-pendapat yang batil.”

Artinya: Qur’an bukan kitab yang boleh dibedah sesuka hati oleh siapa pun hanya karena ia cerdas, banyak membaca, atau memiliki gelar besar.

Jubah tidak melahirkan kemaksuman.
Sorban tidak menciptakan kebenaran.
Titel seperti ulama, allamah, marja’, ayatullah—tetap tidak mengubah manusia menjadi hujjah Allah.

Selama ia bukan Makshum, ia tetap mungkin salah.

Tetap mungkin menafsirkan ayat sesuai horizon pikirannya. Sesuai filsafatnya. Sesuai pendekatan intelektualnya. Sesuai kecenderungan jiwanya.

Karena itu Ahlulbayt tidak pernah mengizinkan agama dibangun di atas “ra’yu” dan “qiyas”.

Sebab ketika manusia memahami Qur’an dengan pikirannya sendiri, perlahan ia tidak lagi mengikuti wahyu— ia mengikuti dirinya sendiri lalu menamakannya “tafsir.”

Dan di situlah agama mulai pecah menjadi ribuan suara.

Semua membawa ayat. Semua membawa dalil. Semua merasa paling Qur’ani.

Tetapi Imam berkata:

“Barangsiapa berserah kepada kami, ia selamat.”

Mengapa?

Karena hanya Makshumin yang benar-benar mengetahui maksud Allah tanpa tercampur ego, asumsi, atau kesalahan.

Mereka bukan sekadar orang saleh.

Mereka adalah lisan Qur’an. Qur’an yang hidup. Qur’an yang berjalan di atas bumi.

Selain mereka, manusia hanya memiliki dua pilihan:

berserah kepada cahaya Imam— atau tersesat di dalam labirin pikirannya sendiri.

Dan sejarah Islam adalah saksi: betapa banyak orang cerdas binasa bukan karena kurang ilmu, tetapi karena lebih percaya kepada akalnya daripada kepada Imamnya.