Imam Ali alaihisalam berkata :
كن كما تكون ولا تكن كما يكونون ولا تقل ما تسمع ولا تسمع ما يقولون
Tentu ini bukan nasihat akhlak biasa.
Ini deklarasi pembebasan manusia.
Karena tragedi terbesar manusia bukan kemiskinan… tetapi kehilangan dirinya sendiri.
Lihatlah ke segala Arah..
Wajahnya miliknya sendiri… tetapi pikirannya milik kerumunan.
Lisannya bergerak… tetapi suaranya hanyalah gema media.
Ia marah pada isu yang sedang dipasarkan. Ia mencintai apa yang sedang dipopulerkan. Ia membenci apa yang sedang dibenci massa.
Ia mengira sedang berpikir…
padahal ia hanya sedang diprogram. Diprogram Pihak lain. Disetting untuk taat.
Dan di sinilah kalimat turun seperti palu:
“كن كما تكون”
“Jadilah sebagaimana dirimu seharusnya.”
Yakni: jadilah manusia merdeka.
Bukan budak opini. Bukan budak algoritma. Bukan budak tepuk tangan manusia. Bukan budak massa. Bukan budak siapa pun.
Karena kebanyakan manusia tidak memiliki “diri”-nya sendiri.
Mereka hanyalah hasil cetakan lingkungan.
Jika hidup di tengah penyembah dunia, mereka ikut menyembah dunia.
Jika hidup di tengah pecinta jabatan, mereka ikut lapar kekuasaan.
Jika hidup di tengah masyarakat yang kehilangan Imam… mereka pun hidup tanpa arah meski terus menyebut nama Imam. Sebutan tanpa makrifah. Tanpa kesadaran. Tanpa Makna.
Dan itulah mengapa para nabi alaihimusalam selalu merasa asing.
Karena para nabi tidak hidup berdasarkan “apa kata manusia”.
Mereka hidup berdasarkan kebenaran.
Para Nabi alaihimusalam berdiri sendirian melawan satu peradaban.
Mereka menghancurkan berhala sementara seluruh masyarakat menyembahnya.
Imam Husain alaihisalam berdiri di Karbala bukan melawan pedang semata…
tetapi melawan mentalitas massa.
Karena mayoritas manusia selalu mencari keselamatan sosial… bukan kebenaran.
Dan Imam Ali alaihisalam melanjutkan:
“ولا تكن كما يكونون”
“Jangan menjadi seperti mereka.”
Siapa “mereka” yang dimaksud?
Mereka adalah manusia tanpa kesadaran.
Manusia yang ukuran benar-salahnya adalah jumlah pengikut.
Manusia yang kiblat pikirannya berubah sesuai tren.
Manusia yang takut sendirian meski berada di jalan haq yang terang benderang.
Hari ini “mereka” tidak lagi selalu berbentuk Pasukan tentara.
Bisa jadi Kadang mereka berbentuk: timeline, media, viralitas, budaya populer, influencer, dan sistem global yang memproduksi manusia seragam.
Sistem kekinian tidak selalu memenjarakan tubuhmu.
Ia cukup menyeragamkan pikiranmu. Ikut berbaris membebek Dan beropini dengan membeo.
Dan ketika seluruh manusia berpikir sama… maka para thaghut musuh-musuh Ahlbayt alaihisalam tidak perlu lagi menggunakan rantai.
Karena manusia sudah menjadi budak secara sukarela. Budak hasil “ijtihadi” mereka.
Lalu Imam Ali alahisalam berkata:
“ولا تقل ما تسمع”
“Jangan katakan semua yang engkau dengar.”
Lihatlah dunia hari ini.
Betapa cepat manusia menyebarkan kebohongan. Betapa ringan lidah mereka menuduh. Betapa murah kehormatan manusia di tangan media sosial.
Satu berita dilempar… lalu ribuan manusia mengulanginya seperti burung beo.
Tidak ada tabayyun, tidak ada cek and recek. Tidak ada akal. Tidak ada hati.
Karena mereka tidak bicara untuk mencari kebenaran.
Mereka bicara untuk ikut keramaian.
Dan akhirnya fitnah menjadi industri.
Padahal lidah adalah cermin kesadaran.
Orang yang tidak mampu menyaring ucapan… berarti tidak memiliki pusat berpikir yang merdeka.
Dan bagian terakhir adalah yang paling menyadarkam:
“ولا تسمع ما يقولون”
“Jangan dengarkan semua yang mereka katakan.”
Karena telinga adalah pintu penjajahan.
Segala sesuatu yang terus kau dengar… akan turun menjadi pikiran. Pikiran menjadi keyakinan. Keyakinan menjadi identitas.
Dan hari ini dunia sedang menyerbu telinga manusia.
Bukan untuk memberi ilmu… tetapi untuk membentuk manusia yang jinak. Yang patuh. Duduk manis siap menerima apa saja yang diberikan tanpa seleksi.
Manusia yang sibuk ke sana ke Mari , tetapi kosong ..
Manusia yang terhibur, tetapi kehilangan arah.
Manusia yang terus berbicara tentang kebebasan… padahal seluruh isi kepalanya diisi oleh peradaban lain.
Dan di sinilah penantian Imam Zaman alahisalam menjadi sangat berat. Berat sekali.
Karena menunggu Imam Zaman alaihisalam berarti menjaga kesadaran tetap hidup… di tengah dunia yang setiap hari berusaha mencuri Dan membajaknya.
Menunggu Imam Zaman alaihisalam berarti menolak menjadi produk massa.
Berarti berani berkata: Tidak. Aku tidak akan berpikir seperti kalian, aku tidak akan hidup seperti kalian, aku tidak akan mengukur kemuliaan dengan ukuran kalian.
Sebab seorang penanti Imam Zaman alahisalam… bukan manusia yang larut dalam arus massa. Bukan manusia yang duduk manis dengan pikiran yang diseragamkan.
Ia adalah manusia yang tetap berdiri dengan kesadaran penuh Dan terjaga… meski seluruh dunia sedang luput. manut. Larut. Hanyut.
