ANTARA TAKLID DAN SISTEM MARJA’
Taklid—
sering disalahpahami,
seolah-olah ia adalah kelemahan berpikir.
Padahal tidak.
Taklid adalah hukum kehidupan.
Ia terjadi di semua bidang:
pasien mengikuti dokter,
murid mengikuti guru,
anak mengikuti orang tua,
yang tidak tahu mengikuti yang ahli.
Tidak ada manusia yang hidup tanpa meniru.
Karena tidak semua orang memiliki kapasitas untuk mengetahui segalanya.
Maka meniru—
bukan kehinaan.
Ia adalah jalan manusia mendekati yang ideal.
Namun dalam agama,
persoalannya tidak sesederhana itu.
Karena agama berbicara tentang kebenaran—
dan kebenaran tidak bisa diserahkan kepada siapa saja.
Secara hakikat,
yang layak ditiru hanyalah mereka
yang memiliki ilmu dan kebenaran secara mutlak.
Namun di sinilah realitas sejarah berbicara:
ketika Sang Sosok Kebenaran berada dalam kegaiban,
manusia tidak dibiarkan tanpa arah—
tetapi juga tidak diberi akses langsung kepada yang ma’shum.
Maka lahirlah ruang ijtihad.
Dan di dalamnya—taklid menjadi jalan.
Namun taklid di sini bukan penyerahan buta.
Ia memiliki syarat yang sangat ketat:
bahwa yang diikuti adalah manusia non-ma’shum
yang secara akidah berdiri kokoh di atas fondasi yang benar—
yakni akidah Ahlulbayt as.
Karena dari fondasi itulah
cara berpikirnya terbentuk,
metodologinya dibangun,
dan batas-batasnya dijaga.
Sehingga jika terjadi kesalahan—
ia tetap berada dalam koridor yang tidak merusak prinsip.
Kesalahan pada cabang—
bukan pada akar.
Di sinilah garis pembeda itu menjadi sangat tajam:
taklid yang benar
adalah taklid yang berada dalam sistem Ahlulbayt as.
Bukan sekadar mengikuti orang alim,
tetapi mengikuti orang alim
yang terikat secara utuh pada sumber kebenaran.
Namun jika akidahnya bermasalah—
semuanya runtuh.
Karena ijtihad bukan sekadar hasil akhir.
Ia adalah proses.
Dan jika prosesnya tidak bersandar pada fondasi yang benar—
lalu dari mana jaminan bahwa hasilnya benar?
Jika sumbernya retak—
bagaimana mungkin alirannya jernih?
Jika akarnya bermasalah—
bagaimana mungkin buahnya dapat dipercaya?
Penutup
Maka persoalannya bukan sekadar:
“Siapa yang harus diikuti?”
Tetapi lebih dalam dari itu:
dari mana ia mengambil akidahnya,
dan di atas fondasi apa ia membangun cara berpikirnya?
Karena di situlah letak jaminannya—
apakah taklid yang engkau jalani
mendekatkanmu pada kebenaran…
atau justru menjauhkanmu darinya
tanpa engkau sadari.
