Demi Hidup Dalam Penantian
Hidup ini… kalau ditelanjangi dari segala hiasannya…
ternyata hanya satu hal:
menanti.
Seorang pemuda menanti pekerjaan.
Seorang suami menanti kelahiran anak.
Seorang petani menanti musim hujan.
Yang lain menanti musim panas, musim dingin, musim semi.
Hari berganti hari…
dan manusia terus berkata: “sebentar lagi…”
Sebentar lagi bahagia.
Sebentar lagi tenang.
Sebentar lagi selesai.
Namun “sebentar lagi” itu tidak pernah benar-benar datang.
Yang datang justru usia yang habis.
Manusia menghabiskan umurnya
dari satu penantian ke penantian lain—
yang semuanya fana, kecil, dan sering kali menipu.
Ia menunggu sesuatu
yang ketika datang… tidak menyelamatkannya.
Di sinilah tragedi itu terjadi.
Bukan karena manusia tidak menanti—
tetapi karena ia menanti hal yang salah.
Ia menanti dunia
yang tidak pernah setia.
Ia menanti sesuatu
yang tidak punya daya menyelamatkan.
Namun ada manusia yang berbeda.
Mereka juga menanti—
tetapi penantiannya bukan kehampaan.
Mereka menanti kemunculan Imam Zamannya —
salam Allah atasnya.
Dan di titik ini, penantian berubah makna.
Ia tidak lagi pasif.
Ia tidak lagi kosong.
Ia menjadi hidup.
Orang yang tidak mengenal Imamnya,
menunggu sambil membunuh waktunya.
Tapi orang yang mengenal Imamnya,
menunggu sambil menghidupkan waktunya.
Penantiannya berubah menjadi:
gairah.
Gairah untuk memperbaiki diri.
Gairah untuk melayani.
Gairah untuk menjadi bagian dari proyek Ilahi.
Ia tidak berkata: “kapan ia datang?”
Ia berkata: “apa yang bisa aku lakukan sebelum beliau datang?”
Di sinilah rahasianya:
dua orang sama-sama menanti…
tapi satu hancur dalam penantian,
dan satu lagi tumbuh dalam penantian.
Yang pertama, menanti dunia—
lalu sesuatu yang menghabiskannya.
Yang kedua, menanti Imam zamannya—
lalu penantian itu justru membangunkannya.
Karena menanti Imam Zaman Salam atasnya
bukan menunggu dengan tangan kosong.
Itu adalah hidup dalam kesiapan.
Hidup dalam pelayanan.
Hidup dalam arah.
Dan di situlah penantian berhenti menjadi kerugian…
ia berubah menjadi jalan keselamatan.
Dari sini kita memahami semangat ayat suci :
وَالْعَصْرِ
Demi masa…
Demi sesuatu yang terus kita habiskan—
tanpa pernah kita pahami.
Masa bukan sekadar jam yang berdetak.
Ia adalah ladang penantian.
Sejak lahir, manusia sudah menunggu.
Menunggu tumbuh.
Menunggu dewasa.
Menunggu cinta.
Menunggu anak.
Menunggu musim berubah—panas, dingin, hujan.
Dan di setiap fase, ia berbisik:
“sebentar lagi…”
Namun hidupnya habis
di antara “sebentar lagi Dan sebentar lagi” yang tidak pernah selesai.
Karena itu, demi masa—
demi seluruh penantian yang mengisi umur manusia—
Allah sedang bersumpah tentang sesuatu yang serius:
Apa yang sebenarnya kamu tunggu?
Apakah kamu menunggu yang besar…
atau tenggelam dalam penantian yang remeh-temeh?
Apakah hidupmu diarahkan pada penantian Imam Zaman—salam atasnya—
atau kamu sibuk menunggu hal-hal kecil
yang bahkan tidak mengenalmu ketika kamu mati?
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.
Bukan karena ia tidak bergerak—
tetapi karena ia bergerak tanpa arah.
Bukan karena ia tidak menanti—
tetapi karena ia menanti yang tidak layak ditunggu.
Ia menunggu keadaan—
yang ketika datang, justru menahannya.
Ia menunggu pengakuan—
yang membuatnya menjadi budak pandangan manusia.
Ia menunggu sesuatu—
yang pada akhirnya meninggalkannya.
Seluruh hidupnya adalah antrean panjang…
menuju sesuatu yang tidak menyelamatkannya.
Inilah kerugian itu.
Kerugian eksistensial.
Ia hidup—
tapi tidak pernah sampai.
Kenapa?
Karena ia tidak pernah benar-benar menanti penyelamatnya.
Ia tidak mengenal Imam Zamannya.
Dan manusia yang tidak mengenal arah keselamatan,
akan mengira setiap jalan adalah benar—
hingga ia jatuh di jurang yang sama.
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا
Kecuali orang-orang yang beriman.
Di sini Al-Qur’an memutus arus tragedi itu.
Tapi iman seperti apa?
Apakah cukup dengan ucapan?
Apakah cukup dengan identitas?
Tidak.
Iman adalah ma’rifah.
Kesadaran.
Pengenalan yang mengikat jiwa.
Mengenal Imam Zaman—salam atasnya—
sebagai hujjah Allah yang hidup.
Karena tanpa hujjah,
iman hanyalah konsep.
Dan tanpa pemimpin ilahi,
Tuhan berubah menjadi ide abstrak
yang bisa ditafsirkan sesuka hawa nafsu.
Maka orang beriman adalah dia yang keluar dari kebingungan sejarah—
karena ia tahu kepada siapa ia harus terhubung.
Ia tidak lagi menanti tanpa arah.
Ia menanti dengan kesadaran.
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Dan mereka beramal saleh.
Di sinilah penantian berubah total.
Orang biasa menanti dengan pasif—
menghabiskan waktu.
Tapi orang yang mengenal Imamnya—
menanti dengan produktif.
Penantiannya menjadi gerak.
Menjadi khidmat.
Menjadi loyalitas.
Menjadi pengabdian.
Ia tidak lagi bertanya:
“kapan beliau datang?”
Ia bertanya:
“apa yang sudah aku siapkan untuk menyambutnya?”
Inilah perbedaan dua jenis penantian:
Satu adalah penantian yang membunuh waktu.
Satu lagi adalah penantian yang menghidupkan manusia.
Amal saleh bukan sekadar perbuatan baik yang terpisah-pisah.
Ia adalah amal yang terhubung.
Terhubung dengan Imam.
Terhubung dengan proyek Ilahi.
Karena amal tanpa arah—
hanyalah aktivitas.
Dan aktivitas tanpa arah—
tidak menyelamatkan.
Di sinilah seluruh surah ini meledak maknanya:
Hidup memang penantian.
Kamu tidak bisa lari darinya.
Tapi kamu bisa memilih—
apa yang kamu tunggu.
Jika kamu menunggu dunia—
kamu akan habis bersamanya.
Jika kamu menunggu Imam Zaman—
penantian itu justru membangkitkanmu.
Maka pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah kamu menanti?”
Tetapi:
“Penantianmu… sedang membangunmu,
atau justru sedang menghabiskanmu?”
