Empat Level Prinsip-Prinsip Tauhid

Tauhid dalam aqidah Ahlulbait (as) adalah bangunan yang memiliki rukun-rukun yang saling terhubung dan menguatkan, yang harus hadir dalam:

* akal

* hati

* ucapan

* perbuatan

Tanpa keterpaduan ini, tauhid tidak terwujud secara hakiki dalam diri manusia.

Rukun Pertama: Tauhid Sebelum Hakikat Muhammad

Tauhid pada ufuk ini adalah:

Allah ada, dan tidak ada sesuatu pun bersama-Nya.

Dalilnya sangat masyhur dalam riwayat:

كَانَ اللَّهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ*

Allah ada, dan tidak ada sesuatu pun bersama-Nya

Dalam riwayat lain:

كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

Allah ada, dan tidak ada sesuatu selain-Nya.

Dia adalah:

Yang Awal tanpa permulaan

Yang Akhir tanpa penghabisan

Dzat Yang Qadim

Dan pada maqam ini:

لَا يَعْرِفُ اللَّهَ إِلَّا اللَّهُ

Tidak ada yang mengenal Allah kecuali Allah.

Ini adalah tauhid pada tahap tanzil, sebagai dasar aqidah.

Kesalahan umum adalah menyamakan tauhid dengan Allah, padahal:

Tauhid adalah konsep tentang Allah, yang hanya diambil dari yang maksum (as).

Rukun Kedua: Tauhid pada Hakikat Muhammad

Setelah itu, Allah menciptakan makhluk pertama:

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ نُورِي

Yang pertama kali Allah ciptakan adalah cahayaku.

Dalam riwayat Ahlulbait (as):

أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْمَشِيئَةَ بِنَفْسِهَا

Yang pertama kali Allah ciptakan adalah kehendak (al-masyi’ah) dengan dirinya sendiri.

Hakikat Muhammad adalah:

makhluk pertama

pancaran pertama

kehendak agung

Pada tahap ini: belum ada makhluk lain selainnya.

Dan melalui kehendak itu:

ثُمَّ خَلَقَ الْأَشْيَاءَ بِالْمَشِيئَةِ

Kemudian Allah menciptakan segala sesuatu melalui kehendak tersebut.

Rukun Ketiga: Tauhid dalam Muhammad dan Ahlulbait (as)

Tauhid pada tahap ini hadir dalam bentuk yang dapat dikenal manusia:

Muhammad dan Ahlulbait (as) adalah manifestasi terbesar dari hakikat Muhammad.

Dalam riwayat disebutkan:

نَحْنُ أَسْمَاءُ اللَّهِ الْحُسْنَى

Kami adalah nama-nama Allah yang indah.

Dan juga:

نَحْنُ وَجْهُ اللَّهِ

Kami adalah Wajah Allah.

Serta:

نَحْنُ عَيْنُ اللَّهِ فِي خَلْقِهِ

Kami adalah mata Allah di tengah makhluk-Nya.

Ini menjelaskan bahwa mereka adalah:

* manifestasi

* penampakan

* jalan makrifah kepada Allah

Bukan Dzat-Nya, tetapi penunjuk kepada-Nya.

Penggunaan Lafaz “Allah” dalam Beberapa Maqam

Dalam riwayat dan doa:

* digunakan untuk : Dzat Yang Qadim

* digunakan untuk : hakikat Muhammad

* digunakan untuk : Imam maksum (as)

Semua sesuai maqam, bukan pencampuran.

Dua Kaidah Penting

1. Kaidah Haysiyyat (Aspek)

 setiap sesuatu dipahami dari sisi dan kedudukannya.

2. Kaidah Maqam (Tingkatan)

Jika tidak dijaga, maka:

* ilmu runtuh

* aqidah rusak

* hikmah hilang

Rukun Keempat: Tauhid dalam Kehidupan

Tauhid tidak berhenti pada pengetahuan.

Ia harus menjadi:

* cara berpikir

* cara merasa

* cara hidup

Sebagaimana dalam doa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا وَلِوَجْهِكَ خَالِصًا

Ya Allah, jadikan seluruh amalanku salih dan murni untuk wajah-Mu.

Tauhid harus tampak dalam seluruh aspek kehidupan.

Penutup

Dalam riwayat mereka (as), tauhid bukan sekadar konsep namun ia adalah jalan.

ِنَا عُرِفَ اللَّهُ وَبِنَا عُبِدَ اللَّهُ

Melalui kami Allah dikenal, dan melalui kami Allah disembah

Di sinilah tauhid mencapai bentuk sempurnanya:

* dikenal melalui mereka 14 manusia suci as

* dijaga melalui mereka Ahlbayt as

* diwujudkan dengan mengikuti mereka para makshumin as