“Menuntut ma’rifat dari selain jalan kami Ahlulbayt as setara dengan
mengingkari kami.”
Kita kembali kepada asal ucapan ini.
Ucapan ini adalah risalah dari Imam Zaman as kepada para pengikutnya di
masa ghaibah kubra.
Mirza Mahdi al-Isfahani rahimahullah, kapan beliau wafat?
Beliau wafat pada tahun 1365 Hijriyah.
Sekarang kita berada pada tahun 1443 Hijriyah. Jarak antara wafatnya dan
tahun ini adalah 78 tahun. Tujuh puluh delapan tahun bukanlah waktu yang
terlalu panjang.
Mirza Mahdi al-Isfahani lahir pada tahun 1303 Hijriyah dan wafat pada tahun
1365 Hijriyah. Usianya mencapai 62 tahun, dan ia wafat di kota Masyhad.
Ada kisah menarik tentang Mirza Mahdi al-Isfahani.
Ia adalah orang Isfahan, Iran, termasuk syiah Ali as. Ia datang ke Najaf. Ingin
meniti karir akademik di Hawzah Najaf.
Orang ini cerdas, teliti, tajam pandangan, dan dalam pemikirannya. Ia sangat
serius dalam belajar dan meneliti.
Ia mengungguli teman-temannya dalam pelajaran, dan berhasil mencapai
derajat ijtihad menurut standar hauzah Najaf. Ini adalah tingkat ilmiah tertinggi
menurut ukuran hauzah tersebut. Ia berhasil mencapai derajat ijtihad menurut
standar ilmiah Najaf.
Pada saat yang sama, Mirza Mahdi al-Isfahani sangat dekat dengan gurunya
dalam irfan, yaitu Sayyid Ahmad al-Karbala’i. Sayyid Ahmad al-Karbala’i adalah
murid dari Syaikh Husain Quli al-Hamadani.
Cerita ini ingin menunjukkan satu hal penting:
bahwa bahkan seorang yang: cerdas, mencapai ijtihad, unggul secara
akademik, tetap tidak serta merta berada di jalur ma’rifat yang benar.
Karena tolok ukurnya bukan kecerdasan, bukan kedalaman filsafat, bukan
kedudukan ilmiah. Tetapi: dari mana ma’rifat itu didapat dan diambil.
Dan karena itu kalimat Imam Zaman as menjadi sangat tajam:
Mengambil ma’rifat dari selain kami Ahlulbayt as sama dengan mengingkari
kami.
Masalahnya bukan pada “seberapa tinggi ilmu seseorang”, tetapi pada “dari
sumber mana ilmu itu berasal”.
Mirza Mahdi al-Isfahani, sebagaimana ia unggul dalam pelajaran hauzah, juga
unggul dalam studi dan perjalanan irfan. Ia mencapai puncak dalam kedua jalur
itu.
Sampai suatu hari gurunya, Ahmad al-Karbala’i, berkata kepadanya:
“Aku tidak lagi mampu memberimu manfaat lebih dari yang telah aku berikan.
Engkau telah mencapai kesempurnaan dalam studi irfan dan perjalanan
spiritual. Engkau bisa berjalan sendiri, atau mengajar murid-murid, karena
engkau telah menguasai irfan beserta rahasia dan urusannya.”
Pada saat yang sama, studinya di hauzah juga telah sempurna hingga ia
mencapai derajat ijtihad menurut standar hauzah Najaf.
Ia sendiri kemudian berkata kepada orang-orang dekatnya:
“Aku telah mencapai kesempurnaan dalam studi hauzah dan menguasai ilmu-
ilmu resminya hingga derajat tertinggi ijtihad. Dan pada saat yang sama,
guruku Ahmad al-Karbala’i telah memberiku izin bahwa aku telah sempurna
dalam irfan menurut metode madrasah Husain Quli al-Hamadani.”
Namun ia berkata:
“Aku tidak merasakan kesempurnaan dalam diriku. Aku tidak merasa telah
sampai kepada hakikat agama ; baik melalui studi hauzah maupun melalui
irfan.”
Perasaan ini menguasainya sepenuhnya.
Ia meninjau kembali kitab-kitabnya, ilmunya, dan semua yang telah ia capai,
namun ia tetap merasa bahwa dirinya belum sampai ke pantai keselamatan.
Ini bagian yang paling penting:
seorang yang telah: mencapai ijtihad, diakui dalam Irfan dan diberi izin menjadi
mursid Irfan oleh gurunya, namun tetap merasa belum sampai kepada hakikat
agama.
Ini bukan kegagalan. Ini justru kesadaran paling jujur.
Karena pada titik ini tersingkap satu kenyataan: Jalan ilmu dan jalan
pengalaman spiritual tidak otomatis membawa kepada hakikat.
Dan di sinilah pintunya terbuka: hakikat tidak ditemukan pada capaian, tetapi
pada sumber.
Ketika seseorang telah mencapai puncak ilmu dan spiritualitas, tetapi masih
merasa kosong, di situlah ia mulai mendekati kebenaran.
Pengakuan Jujur
Aku tidak merasakan hakikat agama dari Imam Zamanku. Studi hauzah tidak
mendekatkanku kepadanya, dan studi irfan juga tidak mendekatkanku
kepadanya. Lalu ke mana aku harus pergi? Padahal hauzah dan irfan dianggap
sebagai pintu-pintu agama.
Kehidupannya mulai berubah. Tekanan semakin menyempitkannya.
Ia dikenal sebagai orang yang sangat menjaga kebersihan, penampilan, dan
kerapian pakaian. Ia teliti dalam segala urusan. Namun keadaan yang
dialaminya membuatnya meninggalkan semua itu: ia mengabaikan rumahnya,
mengabaikan dirinya, mengabaikan penampilannya, bahkan mengabaikan
kebersihan yang dulu sangat dijaganya
Hidupnya menjadi sangat kacau, sampai ia tidak sanggup tinggal di rumahnya.
Ia lalu pergi ke makam Nabi Hud as dan Nabi Shalih as. Tempat itu adalah
bangunan tua yang telah lama ditinggalkan, hampir tidak ada pengunjung.
Sejak pagi hari, Mirza Mahdi al-Isfahani keluar dari tempat tinggalnya menuju
makam tersebut. Ia tinggal di sana lama, kadang sampai matahari terbenam:
kadang membaca Al-Qur’an, kadang membaca doa dan ziarah, kadang
bermunajat kepada Imam Zamannya dan kadang hanya diam dalam
kebingungan
Ia hidup dalam keadaan tertegun, dengan satu pertanyaan yang terus berulang
dalam pikirannya:
“Di mana agama itu?”
Apa yang telah ia pelajari: dalam studi hauzah dan dalam Irfan, tidak ia rasakan
sebagai hakikat agama.
Ia terus bertawassul setiap hari kepada Imam Zamannya:
“Wahai Fatimah keluarga Muhammad, tolonglah aku. Tunjukkan aku jalan. Di
mana pintu yang mengantarkanku kepadamu?”
Hari-hari berlalu, dunia terasa semakin gelap di matanya. Hidupnya semakin
sempit.
Ia tidak menemukan ketenangan: tidak di rumahnya, tidak pula saat
menyendiri di makam Hud dan Shalih
Ia berkata dalam dirinya:
“Aku tidak menemukan hakikat agama ; tidak dalam hauzah, dan tidak dalam
irfan.”
Aku menceritakan ini bukan sekadar teori. Aku berbicara dari pengalaman.
Hingga pada suatu hari, setelah tekanan itu mencapai puncaknya dan ia telah
mencari ke segala arah : datanglah jalan keluar.
Perjumpaan Dengan Imam Zaman as
Suatu hari, ketika kerinduan bergolak dalam dadanya, ia berada sendirian di
makam Hud dan Shalih. Tiba-tiba ia berhadapan langsung dengan Imam
Zamannya.
Ia sendiri menegaskan:
ini bukan mimpi, bukan kasyaf, bukan keadaan antara tidur dan sadar—tetapi
perjumpaan nyata.
Ketika ia melihatnya, ia langsung tahu: ini adalah yang ia cari… ini adalah Imam
Zaman as.
Semua tanda, semua keadaan, semua detail menunjukkan bahwa itu benar-
benar Imam Zaman as.
Imam berdiri di hadapannya, dengan senyum di wajahnya.
Mirza Mahdi berkata: di dada Imam terdapat sehelai kain, pita hijau yang indah
dan berkilau. Lebarnya sekitar dua puluh sentimeter, panjangnya sekitar enam
puluh sentimeter. Di atasnya terdapat tulisan putih yang bercahaya.
Tulisan itu berbunyi:
“طلب المعارف من غير طريقنا أهل البيت مساوق لإنكارنا وقد أقامني الله”
Artinya:
“Mencari makrifat (pengetahuan hakiki) dari selain jalan kami, Ahlulbait, sama
dengan mengingkari kami. Dan Allah telah menegakkan aku (sebagai hujjah).
Dan di bawahnya terdapat stempel bertuliskan:
الحجة بن الحسن
( Al-Hujjah ibn al-Hasan )
Mirza Mahdi membaca tulisan itu, merenunginya, menghafalnya dengan
sangat teliti, hingga benar-benar tertanam dalam jiwanya.
Barulah setelah itu Imam as menghilang dari pandangannya.
Pesan ini bukan sekadar kisah.
Ini tamparan.
Bahwa: Jalan makrifah tidak netral. Kebenaran tidak bisa dicari sembarangan.
Dan agama tanpa Ahlulbait… bukan sekadar kurang, tapi bisa berujung
penolakan terhadap kebenaran itu sendiri
Kalimatnya tajam:
“طلب المعارف من غير طريقنا… مساوق لإنكارنا”
Bukan “berbeda”, bukan “kurang sempurna”…tapi sejajar dengan pengingkaran.
Itu keras. Sangat keras.
Seakan Imam berkata: Kalau engkau mencari Tuhan tanpa kami, engkau
sedang menjauh dari Tuhan itu sendiri.
