بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا

عن أبي عبد الله جعفر بن محمد عليه السلام:
“ليس هذا الأمر معرفة ولايته فقط حتى تستره عمن ليس من أهله، وبحسبكم أن تقولوا ما قلنا، وتصمتوا عما صمتنا، فإنكم إذا قلتم ما قلنا وسلمتم لنا فيما سكتنا عنه فقد آمنتم بمثل ما آمنا به، قال الله تعالى: (فإن آمنوا بمثل ما آمنتم به )

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
“Maka jika mereka beriman seperti apa yang kalian imani, sungguh mereka telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah)

Dari Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad al-Shadiq عليه السلام:

“Perkara ini (agama/Imamah) bukan sekadar mengenal wilayah (kepemimpinan) kami saja, tetapi juga menjaga dan menyembunyikannya dari orang yang bukan ahlinya.
Cukuplah bagi kalian untuk mengatakan apa yang kami katakan, dan diam terhadap apa yang kami diamkan.

Jika kalian berkata sebagaimana kami berkata, dan berserah diri kepada kami dalam hal yang kami diamkan, maka sungguh kalian telah beriman seperti iman kami.

Dan Allah Ta‘ala berfirman:
‘Jika mereka beriman seperti apa yang kalian imani, maka mereka telah mendapat petunjuk.’”

Catatan :

Ini bukan sekadar ajaran “percaya”—ini disiplin intelektual dan spiritual.

Imam tidak hanya menuntut ma‘rifah, tapi adab dalam membawa kebenaran:

Tidak semua kebenaran layak diumbar ke semua orang.

Tidak semua orang punya kapasitas menanggungnya.

Kebenaran tanpa hikmah bisa berubah jadi fitnah.

Kalimat paling menghunjam di sini:
“Katakan apa yang kami katakan, diam pada apa yang kami diamkan.”

Artinya:

Jangan mendahului otoritas kebenaran.

Jangan merasa lebih tahu dari sumbernya.

Jangan menjadikan hawa nafsu sebagai tafsir.

Iman yang benar bukan liar—ia terikat, terarah, dan terjaga.

🌹🌹🌹