Teks Hadis :
عن أبي بصير، عن أبي عبد الله عليه السلام قال قلت له:
{اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أرباباً من دون الله}
فقال:
“أما والله ما دعوهم إلى عبادة أنفسهم،
ولو دعوهم ما أجابوهم،
ولكن أحلّوا لهم حراماً،
وحرّموا عليهم حلالاً،
فعبدوهم من حيث لا يشعرون.”
الكافي الشريف
Terjemah :
Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah (Imam Ja’far ash-Shadiq) as, ia berkata:
Aku bertanya kepada beliau tentang firman Allah:
“Mereka menjadikan para ulama mereka dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan sembahan selain Allah.”
Maka beliau as bersabda:
“Demi Allah, mereka tidak mengajak orang-orang itu untuk menyembah diri mereka sendiri.
Kalau mereka mengajak mereka untuk menyembah diri mereka, niscaya mereka tidak akan mematuhinya.
Akan tetapi mereka menghalalkan bagi mereka apa yang haram, dan mengharamkan atas mereka apa yang halal.
Lalu mereka pun menyembah mereka tanpa mereka sadari.”
— Al-Kafi.
Terjemahan ayat yang dikutip:
اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أرباباً من دون الله
“Mereka menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.”
(QS. At-Taubah: 31)
Ketika manusia mengikuti orang yang tidak ma’shum, selalu ada kemungkinan bahwa yang haram akan dianggap halal, dan yang halal akan dianggap haram. Di situlah agama perlahan berubah bukan karena Allah mengubahnya, tetapi karena manusia mengikuti hawa nafsu manusia lain.
Karena itu Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa petunjuk. Allah menyediakan manusia-manusia suci yang dipilih-Nya, yang disucikan dari kesalahan dalam menyampaikan agama-Nya. Mereka tidak berbicara berdasarkan keinginan diri, tidak menukar kebenaran dengan kepentingan, dan tidak mengubah hukum Allah demi mencari keridhaan manusia.
Maka hakikat tauhid bukan sekadar mengatakan, “Tiada Tuhan selain Allah.” Tauhid adalah memastikan bahwa tidak seorang pun memiliki hak untuk menghalalkan apa yang Allah haramkan, dan tidak seorang pun memiliki hak untuk mengharamkan apa yang Allah halalkan. Hak itu hanya milik Allah.
Oleh sebab itu, mengikuti para manusia suci yang ditunjuk Allah bukanlah lawan dari tauhid, melainkan jalan menjaga tauhid. Sebab mereka tidak mengajak manusia kepada diri mereka sendiri, tetapi mengajak kepada Allah. Mereka tidak menggantikan kehendak Allah dengan kehendak mereka, melainkan menjadi cermin yang memantulkan kehendak Allah kepada manusia.
Ketika manusia meninggalkan para pembimbing suci dan lebih memilih mengikuti tokoh-tokoh yang dapat salah, saat itulah agama terancam berubah menjadi kumpulan pendapat manusia. Namun ketika manusia berpegang kepada hujjah-hujjah Allah yang suci, agama tetap murni sebagaimana diturunkan dari langit.
Inilah makna tauhid dalam ketaatan: bahwa hukum hanya milik Allah, dan jalan paling aman untuk menjaganya adalah mengikuti mereka yang telah Allah sucikan untuk membimbing manusia menuju-Nya.
