Ratapan kesedihan Imam Zaman as ketika berziarah kepada kakeknya al-Husain as :

الإمام المهدي عليه سلام الله :

فَلَئِنْ أَخَّرَتْنِي الدُّهُورُ، وَعَاقَنِي عَنْ نَصْرِكَ الْمَقْدُورُ، وَلَمْ أَكُنْ لِمَنْ حَارَبَكَ مُحَارِبًا، وَلِمَنْ نَصَبَ لَكَ الْعَدَاوَةَ مُنَاصِبًا، فَلَأَنْدُبَنَّكَ صَبَاحًا وَمَسَاءً، وَلَأَبْكِيَنَّ لَكَ بَدَلَ الدُّمُوعِ دَمًا، حَسْرَةً عَلَيْكَ وَتَأَسُّفًا عَلَى مَا دَهَاكَ وَتَلَهُّفًا، حَتَّى أَمُوتَ بِلَوْعَةِ الْمُصَابِ وَغُصَّةِ الِاكْتِئَابِ.

المصدر: زيارة الناحية المقدسة


Terjema :

Imam Mahdi as :

“Sekiranya perjalanan zaman telah menunda aku, dan takdir menghalangiku untuk menolongmu, sehingga aku tidak dapat ikut memerangi orang-orang yang memerangimu dan tidak dapat menghadapi orang-orang yang memusuhi dirimu, maka sungguh aku akan meratapimu pagi dan petang. Aku akan menangisimu dengan darah sebagai pengganti air mata, karena kesedihan yang mendalam atasmu, penyesalan atas musibah yang menimpamu, dan kerinduan yang membara kepadamu; hingga aku mati karena pedihnya musibah itu dan karena sesaknya duka.”

Sumber: Ziyārah an-Nāḥiyah al-Muqaddasah (زيارة الناحية المقدسة).