Apa itu amal salih Dan Siapakah Orang Salih Menurut Islam al-Ghadir ?

                                                                                                                                                                                                            Banyak orang membayangkan bahwa amal salih adalah memberi makan orang miskin, membangun masjid, membantu sesama, atau melakukan berbagai perbuatan baik lainnya. Tetapi Al-Qur'an tidak pernah berbicara tentang amal salih sebagai perbuatan yang berdiri sendiri.

Al-Qur’an selalu mengulang satu rangkaian yang sama:

“Orang-orang yang beriman dan beramal salih.”

Seakan-akan Al-Qur’an ingin berkata bahwa amal tidak menjadi salih hanya karena ia tampak baik. Amal menjadi salih karena ia lahir dari iman. Sebagaimana buah memperoleh kehidupannya dari akar, amal memperoleh nilainya dari iman.

Di sinilah pertanyaan besar itu muncul:

Apa itu iman?

Apakah iman sekadar percaya kepada Tuhan?

Apakah iman sekadar mengucapkan syahadat?

Apakah iman sekadar kumpulan konsep yang tersimpan di dalam pikiran?

Tidak.

Iman dalam pengertian Qurani bukan sekadar pengetahuan. Iman adalah keterikatan eksistensial kepada jalan yang ditetapkan Allah dalam sejarah manusia. Dan Allah tidak pernah membiarkan bumi tanpa hujjah. Tidak pernah ada zaman tanpa imam. Tidak pernah ada masyarakat tanpa pemimpin Ilahi yang menjadi poros petunjuk-Nya.

Karena itu, makrifah kepada imam bukan cabang dari iman. Makrifah kepada imam adalah pintu masuk menuju iman.

Bagaimana mungkin seseorang mengaku beriman kepada jalan Allah, tetapi tidak mengenal pemimpin yang ditetapkan Allah untuk zamannya?

Bagaimana mungkin seseorang berbicara tentang petunjuk, tetapi tidak mengenal pembawa petunjuk?

Bagaimana mungkin seseorang mengaku berjalan menuju matahari, tetapi tidak mengetahui dari mana matahari itu terbit?

Di sinilah makna mendalam sabda yang menyatakan bahwa siapa yang tidak mengenal imam zamannya, maka ia mati dalam kematian jahiliah.

Sebab kehilangan imam berarti kehilangan arah.

Dan kehilangan arah berarti kehilangan iman.

Maka rantainya sangat jelas:

Tanpa makrifah kepada Imam Zaman, tidak ada iman.

Tanpa iman, tidak ada amal salih.

Tanpa amal salih, tidak ada manusia salih.

Karena itu, orang salih bukanlah orang yang sekadar banyak berbuat baik.

Orang salih adalah orang yang amalnya tumbuh dari iman.

Dan imannya tumbuh dari makrifah kepada Imam Zamannya.

Di sinilah letak kesalahan besar yang sering terjadi dalam kehidupan keagamaan. Kita mengukur kesalehan dengan banyaknya aktivitas, padahal Al-Qur’an mengukurnya dengan kebenaran arah.

Seseorang mungkin membangun seribu lembaga, menulis seribu buku, menghabiskan seluruh hidupnya dalam berbagai kegiatan keagamaan. Namun jika ia kehilangan hubungan dengan imam yang menjadi hujjah Allah pada zamannya, maka seluruh aktivitas itu kehilangan pusat gravitasinya.

Sebaliknya, seorang mukmin yang mengenal Imam Zamannya, hidup di bawah cahaya wilayahnya, lalu menerjemahkan pengenalan itu ke dalam amal, meskipun amalnya sederhana, ia sedang bergerak dalam orbit yang benar.

Sebab yang dicari Allah bukan sekadar gerak.

Yang dicari Allah adalah gerak yang menuju tujuan.

Bukan sekadar amal.

Tetapi amal yang salih.

Dan amal tidak pernah menjadi salih kecuali melalui iman.

Iman tidak pernah menjadi iman kecuali melalui makrifah kepada Imam Zaman.

Maka kesalehan sejati dimulai bukan dari tangan yang bekerja, tetapi dari hati yang mengenal hujjah Allah.

Karena manusia pertama-tama harus menemukan imamnya, sebelum ia dapat menemukan jalan hidupnya.

Dan ketika ia menemukan imamnya, barulah iman lahir.

Ketika iman lahir, amal menjadi salih.

Dan ketika amal menjadi salih, lahirlah manusia yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai: hamba-hamba-Ku yang salih.