Al-Ghadir ( 5 ) Berbagai pembenaran yang lemah.

Seiring berjalannya waktu, persoalan ini sampai pada tingkat pengingkaran dalam sebagian keadaan, dan pada tingkat keraguan dalam keadaan yang lain.

Terkadang yang terjadi adalah pengosongan makna dan kandungan. Peristiwa tersebut diakui, tetapi kandungan dan makna dari gagasan itu dikosongkan.

Dan masih ada berbagai metode lainnya yang semuanya bermuara pada satu hal, yaitu menimbulkan keraguan dan mengaburkan gagasan tersebut.

Apabila gagasan itu telah dikaburkan dan dikosongkan dari kandungannya, maka hal yang wajar adalah orang-orang tidak lagi memberikan perhatian kepadanya.

Setelah itu mereka mengabaikannya, dan kemudian ia masuk ke dalam lorong-lorong pelupaan.

Inilah arah yang ditempuh oleh proyek Iblisi dalam menghadapi Al-Ghadir.

Itu yang terjadi di lingkungan yang berseberangan.

Adapun di lingkungan yang sejalan (pendukung), terdapat proses yang jelas berupa pembatasan Al-Ghadir pada suatu peringatan tertentu.

Sekarang ikutilah saluran-saluran televisi, media-media Syiah, dengarkan para pembicara di lingkungan Syiah kita, dan dengarkan khutbah-khutbah mereka.

Saya telah mengikuti khutbah-khutbah dan para pembicara itu, bukan hari ini saja, melainkan selama bertahun-tahun.

Saya selalu menemukan fokus pada satu perkara ini:

“Wahai Amirul Mukminin, kami tidak akan bosan dan tidak akan lelah memperbarui baiat kami kepadamu setiap tahun.”

Baiat yang mana ini?

Baiat kepada Ali.

Dikatakan:

“Baiat kepada Ali mengalir bersama darah. Baiat kepada Ali menyertai setiap denyut yang berdenyut dalam hati-hati kami.”

Semua ini merupakan pembatasan terhadap konsep yang suci ini.

Seakan-akan Al-Ghadir hanyalah sebuah peringatan.

Benar, salah satu makna Al-Ghadir memang adalah sebuah peringatan, tetapi di sini terjadi kebingungan antara yang penting dan yang lebih penting.

Ini adalah ungkapan yang selalu kami ulangi.

Sebagai contoh, sebuah kalimat yang kita tulis di husainiyah-husainiyah kita, di media-media kita, mungkin juga di rumah-rumah kita, dan kita ulangi dalam majelis-majelis doa.

Mayoritas Syiah menghafalnya:

“Salam atas Muhammad dan keluarga Muhammad.”

“Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang meninggalkannya.”

Saya ingin berhenti sejenak pada ungkapan-ungkapan ini.

Apa makna dari ungkapan-ungkapan tersebut?

“Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang meninggalkannya.”

Ini merupakan kilasan keempat dari pembicaraan saya.

Makna ungkapan ini memiliki lebih dari satu cakrawala pemahaman.

Cakrawala pertama, dan secara ringkas saya akan memberikan sebuah contoh.

Ketika para Imam عليهم السلام melaknat seseorang atau mendoakan rahmat untuk seseorang, maka cakrawala pertama dari laknat atau doa rahmat tersebut bukanlah doa itu sendiri.

Boleh jadi doa merupakan salah satu tujuan dari ucapan itu.

Namun ketika para Imam melaknat seseorang atau mendoakan rahmat baginya, mereka ingin menjelaskan keadaan orang tersebut.

Ketika mereka melaknatnya, itu merupakan penjelasan tentang keadaannya.

Ketika mereka mendoakan rahmat baginya, itu juga merupakan penjelasan tentang keadaannya.

Inilah tujuan pertama dan maksud utama.

Adapun doa, maka itu mungkin termasuk salah satu tujuan dari ucapan tersebut.

Meskipun kalimat itu berbentuk doa, kandungan dan maksud utamanya adalah menjelaskan keadaan orang yang dilaknat atau keadaan orang yang didoakan rahmat.

Ketika Nabi Yang Agung Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang meninggalkannya,”

maka di sini beliau menjelaskan dua golongan manusia:

  • Golongan yang akan bersama Ali bin Abi Thalib.
  • Golongan yang akan menentang Ali bin Abi Thalib.

Dan doa di sini merupakan pujian bagi orang yang bersama Ali, serta celaan bagi orang yang menentang Ali as.