Imam kita al-Hasan as mengubah seorang laki-laki menjadi perempuan, lalu mengembalikannya menjadi laki-laki lagi* 🤍

Ar-Rawandi meriwayatkan:*
Diceritakan bahwa Amr bin al-‘Ash berkata kepada Muawiyah:
“Sesungguhnya al-Hasan bin Ali ‘alaihissalam adalah orang yang gagap. Dan sesungguhnya jika ia naik mimbar lalu orang-orang memandangnya dengan mata mereka, ia akan malu dan bicaranya terputus. Jika engkau mengizinkannya…”

Maka Muawiyah berkata: “Wahai Abu Muhammad, naiklah ke mimbar dan berilah kami nasihat.”

Maka beliau berdiri lalu naik mimbar. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, menyebut kakeknya lalu bershalawat atasnya. Kemudian beliau berkata:
“Wahai manusia, barangsiapa mengenaliku maka ia telah mengenalku. Dan barangsiapa tidak mengenalku maka aku adalah al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, dan anak dari Sayyidatun Nisa’ Fatimah putri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa aalihi.
Aku anak Rasulullah, aku anak Nabi Allah, aku anak lampu yang menerangi, aku anak pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, aku anak orang yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, aku anak orang yang diutus kepada jin dan manusia, aku anak sebaik-baik makhluk Allah setelah Rasulullah, aku anak pemilik keutamaan-keutamaan, aku anak pemilik mukjizat dan bukti-bukti, aku anak Amirul Mukminin.
Aku orang yang dirampas haknya, aku salah satu dari dua pemuda penghulu ahli surga, aku anak Rukun dan Maqam, aku anak Makkah dan Mina, aku anak Masy’ar dan Arafah.”

Maka Muawiyah marah dan berkata: “Bicaralah tentang sifat kurma dan tinggalkan itu!”

Maka beliau menjawab: “Angin yang meniupnya, panas yang mematangkannya, dan dinginnya malam yang membuatnya lezat.”

Lalu beliau kembali berkata: “Aku anak pemberi syafaat yang ditaati, aku anak orang yang para malaikat berperang bersamanya, aku anak orang yang Quraisy tunduk kepadanya, aku anak Imam seluruh makhluk dan anak Muhammad Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa aalihi.”

Maka Muawiyah khawatir manusia akan terpengaruh olehnya, lalu berkata: “Wahai Abu Muhammad, turunlah. Cukuplah yang telah terjadi.”
Maka beliau turun. Muawiyah berkata kepadanya: “Engkau menyangka akan menjadi khalifah, padahal bukan itu urusanmu.”

Maka al-Hasan ‘alaihissalam bersabda: “Sesungguhnya khalifah itu adalah orang yang berjalan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Bukan khalifah orang yang berjalan dengan kezaliman, menelantarkan sunnah, dan menjadikan dunia sebagai bapak dan ibunya. Ia memiliki kerajaan yang dinikmatinya sebentar lalu kenikmatannya terputus dan tersisa tanggung jawabnya.”

Di majelis itu hadir seorang pemuda dari Bani Umayyah. Ia berkata kasar kepada al-Hasan, melampaui batas dalam mencela dan menghina beliau dan ayahnya.

Maka al-Hasan ‘alaihissalam berdoa:
“Ya Allah, ubahlah nikmat yang ada padanya dan jadikanlah ia perempuan agar ia menjadi pelajaran.”
Maka seketika orang Umayyah itu melihat dirinya dan ia telah menjadi perempuan. Allah mengubah kemaluannya menjadi kemaluan perempuan dan jenggotnya rontok.

Lalu al-Hasan ‘alaihissalam berkata kepadanya:
“Pergilah wahai wanita. Engkau tidak punya tempat di majelis laki-laki karena engkau adalah perempuan.”

Kemudian al-Hasan ‘alaihissalam diam sebentar, lalu mengibaskan bajunya dan berdiri hendak keluar.
Maka Ibnu al-‘Ash berkata: “Duduklah, sesungguhnya aku ingin bertanya kepadamu beberapa pertanyaan.”

Beliau ‘alaihissalam bersabda: “Tanyakan apa yang engkau mau.”
Amr berkata: “Beritahu aku tentang kemurahan hati, keberanian, dan muru’ah.”

Maka beliau ‘alaihissalam menjawab:
“Adapun kemurahan hati: adalah memberikan kebaikan secara sukarela, dan memberi sebelum diminta.
Adapun keberanian: adalah membela kehormatan, dan bersabar di tempat-tempat dan dalam hal-hal yang tidak disukai.
Adapun muru’ah: adalah menjaga agamanya, menjaga dirinya dari noda, menegakkan hak-hak, dan menebarkan salam.”
Lalu beliau berdiri dan keluar.

Muawiyah mencela Amr dan berkata: “Engkau telah merusak penduduk Syam.”
Amr menjawab: “Jauhi aku. Penduduk Syam tidak mencintaimu karena cinta iman dan agama. Mereka hanya mencintaimu karena dunia yang mereka dapat darimu, karena pedang dan harta ada di tanganmu. Apa gunanya ucapan al-Hasan?”

Kemudian tersebarlah berita tentang pemuda Umayyah itu. Istrinya datang kepada al-Hasan ‘alaihissalam sambil menangis dan merengek. Maka beliau luluh dan mendoakannya. Lalu Allah mengembalikannya seperti semula.

[Madinat al-Ma’ajiz 📚]


Pelajaran dari kisah ini:

  1. Keutamaan Imam Hasan: Nasab, ilmu, dan kewibawaan beliau membuat musuh pun gentar.
  2. Definisi kepemimpinan sejati: Bukan kekuasaan dunia, tapi berjalan dengan Al-Quran dan Sunnah.
  3. Mukjizat Ahlulbait: Doa Imam bisa mengubah takdir sebagai hujjah atas kebenaran mereka.
  4. Akhlak: Jawaban beliau tentang karam, najdah, muru’ah adalah adab yang agung.